Sunday, October 27, 2019
Saturday, October 26, 2019
Seperti Apakah Rupa Yesus Sebenarnya?
Seperti apakah rupa, wajah dan tampang Yesus Kristus sebenarnya? Selama berabad-abad para seniman terkenal seperti Michelangelo, Rembrandt dan Rubens, para ilmuwan dan jutaan umat Kristen telah merenungkan pertanyaan tersebut
Akan tetapi, apa sebenarnya dasar interpretasi kita untuk mengidentifikasi seperti apa rupa Yesus sebenarnya?
Tidak ada gambaran fisik tentang Kristus di dalam Kitab-kitab Injil. Matius, Yohanes, Petrus, Yakobus dan Yudas, yang merupakan murid-muridNya selama pelayananNya di bumi, tidak mencatat rincian apapun tentang ciri-ciri fisikNya. Kita tidak pernah membaca tentang tinggi, besar, warna rambut, warna mata atau panjangnya rambut Kristus.
Apakah Yesus rambutnya panjang?
Para seniman yang melukis gambar Yesus dapat dikatakan sangat imajinatif. Gambaran atau lukisan Yesus berambut panjang berasal dari karya seni era Renesans, di abad 15, ketika rambut panjang dianggap modis. Akan tetapi, gambaran artistis paling awal tentang Yesus adalah seseorang yang berambut pendek.
Alkitab menyatakan,” Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang, tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang? Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung.”(I Kor 11:14-15). Alkitab menunjuk Samson berambut panjang, karena itu ia sangat luar biasa. Akan tetapi, tidak ada disebut tentang Tuhan kita Yesus Kristus mempunyai rambut lebih panjang dari apa yang lazim/normal pada masa itu.
Lukisan artistis paling awal tentang Kristus, pada dinding-dinding katakombe (kuburan bawah tanah yang besar/luas), yang diukir dalam gambar timbul pada sarkofagus (tempat untuk menyimpan jenazah), atau yang diukir dalam ubin/genteng mozaik, menggambarkan seseorang yang berambut pendek. Kecenderungan umum di abad pertama bagi para laki-laki adalah berambut pendek.
Kain Kafan dari Turin
Dari analisa ilmiah tentang Kain Kafan dari Turin yang kontroversial, Professor Giovanni Judica-Cordiglia menulis: “Pria yang dibungkus dalam kain kafan adalah seorang yang sangat indah dan berperawakan tinggi sekali. Ia tingginya 1,8 meter, dengan fisik yang sangat proporsional, luwes dan sedap dipandang. Kita bisa melihat bahwa wajahNya sangat lemah lembut dan baik hati, agak panjang dan mempunyai dahi lebar dan lurus. Hidung lurus dan agak berputar sedikit ke bawah, pipi besar dan sedikit menonjol….”
Gambaran Modern
Bagi mereka yang tertarik dengan catatan kontemporer, sebuah gambaran fisik tentang Yesus memang dapat ditemukan dalam salinan surat Konsul Romawi, Lentulus, kepada Kaisar Romawi Tiberius.
Surat Konsul Romawi itu dibubuhi tanggal tahun ke-12 Pemerintahan Kaisar Tiberius. Sejarawan Yahudi Josephus, dalam bukunya “Antiquities of the Jews”, menyebut Konsul Roma Lentulus. Dalam suratnya kepada kaisar, Lentulus menggambarkan orang yang dihukum, Yesus dari Nazaret, memiliki:”Wajah yang mulia dan ceria, dengan rambut pirang dan sedikit keriting, alis hitam dan sangat melengkung, mata biru yang tajam dan ekspresi wajah yang anggun. Hidungnya agak panjang. Jenggotnya hampir pirang, meskipun tidak begitu panjang, lehernya sedikit lekuk sehingga Ia tidak pernah tampak sebagai seorang yang sombong atau dingin. WajahNya yang kecoklatan sangat proporsional. Ini memberi kesan kebijaksanaan, kebaikan dan sifat manis yang sangat menarik hati, dan tidak ada tanda pemarah.”
Ada bukti untuk menyatakan bahwa Tiberius begitu terkesan oleh Kebangkitan Yesus dari kematian sehingga ia berusaha membuat Yesus dinyatakan sebagai seorang dewa. Akan tetapi, Senat Romawi menolak untuk menyetujui pengakuan bahwa manusia terhukum itu sebagai dewa kuil Romawi.
Gambaran Alkitabiah tentang Yesus
Salah sekali kalau ada orang yang menyatakan bahwa tidak ada gambaran atau deskripsi Alkitabiah tentang Tuhan kita Yesus Kristus. Memang Alkitab tidak menyebut ciri-ciri fisik Yesus, tetapi kita sungguh mempunyai gambaran tentang Kristus yang bangkit dan naik ke surga dalam Kitab terakhir Alkitab, Wahyu Yesus Kristus.
Rasul Yohanes menggambarkan apa yang ia lihat:” Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus. Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala, katanya: “Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia.” Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas. Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas. Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api. Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah. Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik. Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, (Wahyu 1:9-17).
Hal yang paling penting bukanlah seperti apa penampilan Yesus, tetapi apa yang telah Ia katakan dan perbuat. Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat. Kalau Rasul Yohanes, murid yang dikasihi Yesus, yang pada Perjamuan Terakhir bisa menyandarkan kepalanya pada bahu Tuhan, bisa tersungkur di kaki Kristus seperti orang mati, bagaimana kita bersikap kalau kita yang berhadapan langsung dengan Tuhan yang bangkit dan naik ke surga dalam seluruh kemuliaan dan keagunganNya?
Kita juga akan berkata,”Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!” (Wah 5:12)
Bapa Gereja abad ke-2 Masehi, Yustinus Martyr, menunjuk pada Yesaya 53:2:”…. Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya”, sebagai sebuah petunjuk bahwa penampilanNya tidak luarbiasa. Akan tetapi, Origenus mengutip Mazmur 45:2:” Engkau yang terelok di antara anak-anak manusia, kemurahan tercurah pada bibirmu, sebab itu Allah telah memberkati engkau untuk selama-lamanya”. Yesaya 52:14 menubuatkan bahwa Ia akan begitu dirusak wajahnya ketika disalibkan, hal ini begitu jelas dilukiskan dalam Mazmur 22 dan Yesaya 53.
Jangan bingung
Jikalau masalah rupa Yesus dianggap penting atau relevan, Injil pasti sudah memberi gambaran lengkap/sempurna tentang hal ini. Faktanya Kitab-kitab Injil tidak memberi gambaran. Hal itu menunjukkan bahwa fokus utama tentang Yesus adalah tentang apa yang dikatakanNya dan apa yang telah dilakukanNya. Jadi, kita seharusnya jangan bingung atau kacau tentang hal ini.
Bapa Gereja, St. Agustinus dalam bukunya “On the Trinity”, menulis bahwa setiap orang mempunyai kesan atau gambaran batiniah yang berbeda tentang Kristus. Ia menulis:”Wajah fisik Tuhan dilukis dengan ragam imajanisasi yang tak terhitung dan tak terbatas…”
Sehingga, bagi kita apa yang penting adalah pemahaman kita tentang natur/hakikatNya, kehidupanNya dan ajaran-ajaranNya.
Dampak Pergaulan

Amsal 13:20 “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”
Margareth Thatcher pernah berkata Tunjukkan padaku teman-temanmu maka aku akan menunjukkan padamu masa depanmu . Baik dari kacamata firman maupun dalam hal sekuler, keduanya menguatkan betapa pentingnya pergaulan yang baik bagi masa depan kita.
Dalam pelayanan penjara yang kami lakukan, seringkali mereka yang masuk ke sana adalah karena pergaulan yang salah. Ketika salah bergaul, mereka dengan mudah digiring oleh teman-teman sepergaulan untuk melakukan kejahatan secara bersama-sama. Dan itu susah sekali untuk ditolak, karena mereka hidup dalam komunitas yang sama. Maka mulailah ada yang jatuh dalam narkoba, bahkan sampai ada juga yg melakukan perampokan dan pembunuhan.
Lebih parahnya lagi, ketika keluar, beberapa orang bukannya bertobat tetapi malah melakukan kejahatan yang sama, bahkan yang lebih besar. Itu terjadi karena di dalam mereka dimuridkan oleh senior mereka.
Benarlah firman ini; “Bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, begitupun sebaliknya, jika bergaul dengan orang bebal menjadi malang”. Marilah kita perhatikan pergaulan kita dan juga anak-anak kita. Pastikan hidup kita dan anak-anak kita ada dalam komunitas yang benar. Akan lebih baik lagi bila Saudara masuk kedalam wadah komunitas sel di gereja, Anda akan menemukan komunitas yang saling mendukung, saling menopang dan sama-sama bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Bukankah lebih baik masuk komunitas sel daripada masuk Sel?
Tuhan memberkati Anda dan keluarga…
GMKI Luncurkan Buku Pancasila Rumah Bersama dan Aplikasi GMKI Sinergi

Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) melaksanakan rangkaian Parade Kemerdekaan dan Kebangsaan untuk memperingati 72 Tahun Indonesia Merdeka dan 89 Tahun Sumpah Pemuda. Sebagai penutup dari parade ini, pada hari Senin, 30 Oktober 2017, GMKI melaksanakan peluncuran buku Pancasila Rumah Bersama dan Aplikasi GMKI Sinergi serta Seminar Nasional dengan tema “Pemuda sebagai Penjaga Pancasila dan Pembangun Peradaban” di Gedung Juang 45, Cikini.
Alan Christian Singkali, Sekretaris Umum Pengurus Pusat GMKI menjelaskan bahwa kegiatan parade sudah dilakukan sejak bulan Agustus adalah Lomba Menulis Biografi, Lomba Membuat Video, Lomba Menulis Opini, serta Kunjungan Pesantren dan Gereja di Jawa Timur.
“Rangkaian kegiatan ini kita lakukan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila dan kebangsaan kepada anggota GMKI serta menjalin silaturahmi dengan sesama anak bangsa lainnya. Dengan adanya komunikasi yang baik, maka kita dapat meredam terjadinya konflik dan bekerjasama membangun peradaban Indonesia,” ujarnya.
Alan melanjutkan, sebagai akhir rangkaian parade, dilakukan peluncuran buku Pancasila Rumah Bersama yang dituliskan oleh 21 orang senior dan kader GMKI dari seluruh Indonesia.
“Buku ini tentunya masih belum sempurna. Namun kehadiran buku ini kami harap akan semakin membangun diskursus kita tentang bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila. Dan kami harap buku ini menstimulus lahirnya buku-buku lain dari pemuda Indonesia,” kata Alan.
Ketua Umum Pengurus Pusat GMKI, Sahat Martin Philip Sinurat menyampaikan bahwa ruang publik bangsa Indonesia diganggu dengan berbagai hal negatif seperti ujaran kebencian terkait suku, agama, ras dan antar golongan (SARA), tindakan persekusi, pelarangan ibadah terhadap kelompok agama tertentu, dan lain sebagainya. Ideologi Pancasila harus selalu dipahami dan dijiwai setiap insan manusia Indonesia, terkhusus para pemuda agar berbagai persoalan bangsa bisa kita selesaikan bersama. Karena Pancasila tidak hanya dilihat dari sila pertama saja, tapi harus secara menyeluruh, holistik.
“Hari ini kami meluncurkan buku Pancasila Rumah Bersama sebagai bentuk kontribusi dari GMKI untuk rakyat, bangsa dan negara ini. Kami berharap buku ini dapat memberikan pencerahan kepada generasi muda bagaimana memahami Pancasila dalam konteks kehidupan saat ini,” paparnya.
Dia juga menambahkan dalam kesempatan ini GMKI juga akan meluncurkan Aplikasi GMKI Sinergi.
“Aplikasi GMKI Sinergi dapat digunakan dalam android dan IOS. Adanya aplikasi ini bertujuan untuk meningkatkan sinergisitas di antara anggota dan simpatisan GMKI, sehingga dapat bergerak, berjejaring, dan berkolaborasi bersama membangun peradaban Indonesia. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak atas dukungan dan kerjasamanya sehingga aplikasi ini dapat dibangun dan digunakan untuk kepentingan seluruh kompenen GMKI,” pungkasnya.
Terawan Agus Putranto, Menteri Kesehatan Baru yang Ternyata Cinta Tuhan

Mayjen TNI Dr.dr.Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) RI baru saja dilantik menjadi Menteri Kesehatan (Menkes) menggantikan Nila Moeloek.
Kehadiran sosok pria lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) ini di Kabinet Indonesia Maju periode kerja 2019-2024 memang hal yang tak disangka-sangka. Pasalnya dia sempat menghadapi kontroversi soal metode pengobatan stroke yang ia kembangkan atau yang dikenal dengan sebutan terapi cuci otak. Pasalnya, terapi ini dianggap melanggar kode etik kedokteran.
Terawan akhirnya dipecat dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sejak 26 Februari 2018-25 Februari 2019 dan mencabut izin praktek dokternya.
Namun siapa sangka dibalik kontroversi metode cuci otaknya, Terawan justru sudah banyak menyembuhkan pasien yang mengalami stroke. Selama menjabat sebagai Kepala RSPAD Gatot Subroto, Terawan sudah banyak menyelamatkan nyata para prajurit TNI.
Karena hal itulah, banyak pihak yang memprotes tindakan pemberian sanksi oleh IDI terhadapnya. Mereka menilai, harusnya bangsa menghargai kerja keras yang dilakukan oleh dokter Terawan dalam menyelamatkan nyawa banyak orang.
Terlepas dari kontroversi tersebut, kehidupan pribadi sang dokter ini ternyata begitu menarik. Sang dokter religius, begitulah julukannya. Dalam kehidupannya sehari-hari, penganut Kristen Protestan ini dikenal gak pernah lupa berdoa sebelum menangani pasiennya.
Kebiasaan ini ternyata menular dari hasil didika dari orangtuanya. Terawan menjelaskan bahwa kebiasaan keluarga sejak kecil telah mendarah daging di dalam dirinya, termasuk kebiasaan berdoa dan mengandalkan Tuhan.
“Sejak lahir saya dibesarkan oleh keluarga yang religius. Bapak ibu memang mendidik saya seperti itu, sehingga itu terbawa terus sampai sekarang. Dan mereka selalu mengutamakan untuk kamu itu yang penting jadi orang yang jujur saja, apa adanya yang kuasa pasti menjaga kamu. Yang penting kamu terus rajin berdoa,” jelasnya.
Salah satu tindakan dokter Terawan dalam mengandalkan Tuhan saat sedang menangani pasien adalah selalu mengiringi proses pengobatan pasien dengan memutarkan instrumen-instrumen rohani. Dia percaya bahwa dia hanyalah alat yang dipakai Tuhan untuk menyembuhkan pasien. Sementara hasilnya ditentukan sepenuhnya oleh Tuhan sendiri. Keyakinan inilah yang selalu dipegang oleh dokter Terawan.
“Saya mengerjakan sesuai keilmuan saya yang diberikan yang kuasa. Saya berikan hal yang terbaik untuk pasien dan ternyata diberkati Tuhan. Jadi dia (pasien) bisa melihat dengan baik..Menurut saya (pasien sembuh) bukan karena saya. Saya percaya Tuhan yang mengatur dan ayat yang sering menjadi pegangan saya ada satu jangan kuatir akan apapun juga,” terangnya.
“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” demikian kutipan Matius 6: 25, yang selalu jadi pegangan dalam hidup dokter Terawan.
Selain dikenal sangat cinta Tuhan, Terawan juga adalah sosok yang peduli. Sebagai dokter dia tak pernah membeda-bedakan pasien dari status ekonominya. Bahkan dengan senang hati Terawan selalu membuka pintu bagi pasien yang tidak mampu untuk mendapatkan pengobatan yang layak.
“Banyak orang yang menjadi tindakan (pengobatan) dan tidak semua harus membayar. Saya percaya pada jalan Tuhan,” ungkapnya.
Dengan teladan kebiasaan, keyakinan dan namanya yang sudah dikenal banyak dikalangan pejabat maupun masyarakat mancanegara, dipastikan menjadi nilai plus yang dicatat oleh Presiden Jokowi dalam mempercayakannya menjabat sebagai Menteri Kesehatan.
Bukan berarti jabatan ini ringan. Karena di Kementerian Kesehatan sendiri ada banyak pekerjaan rumah yang sedang menanti untuk dibereskan. Dan semoga dengan segala kemampuan dan keyakinannya akan penyertaan Tuhan, dokter Terawan bisa mengemban tugas ini dengan baik.
Untuk lebih tahu soal biografi lengkap dokter Terawan Agus Putranto, bisa dibaca di bawah ini:
PROFIL
Nama Lengkap: Terawan Agus Putranto
Tempat Tanggal Lahir: Yogyakarta, 5 Agustus 1964
Istri: Ester Dahlia
Anak: Abraham Apriliawan
PENDIDIKAN
S1, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada (UGM), 1990
S2, Spesialis Radiologi. Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, 2004
S3, Doktor Fakultas Kedokteran, Universitas Hassanuddin (Unhas), Makassar, 2013
KARIER
dokter tahun 1990
Tim Dokter Kepresidenan, 2009
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia
Ketua World International Committee of Military Medicine
Ketua ASEAN Association of Radiology
Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, 2015-sekarang
Anggota, Akademi Ilmu Pengetahuan Yogyakarta (AIPYo), 2016
Subscribe to:
Posts (Atom)