Sunday, January 12, 2020

Bom Waktu Pendidikan



Di Solo ada berita seru. Seorang anak didik putri di keluarkan karena mengucapkan selamat ulang tahun pada temannya.
Ia bersekolah di SMP Islam Terpadu Nur Hidayah. Sekolah yang disemangati oleh gerakan Ikhwanul Muslimin. Corak keislamannya kaku. Gaya Wahabi. Hal yang biasa saja, menjadi persoalan besar. Mengucapkan selamat ulang tahun dianggap pelanggaran serius pada aqidah.

Apalagi kalau mengucapkan selamat Natal?
Sekolah Islam Terpadu banyak bertumbuhan. Sebagian beraliran keras. Mencetak anak-anak jadi robot agamis. Suasana keindonesiaan yang pluralis dan menghargai perbedaan melorot. Habis.
Di Depok, sekolah-sekolah jenis ini juga bertumbuhan. Tidak ada pengajaran toleransi. Yang ada suasana beragama kaku dan keras. Anak didik yang masih unyu-unyu dibelah dengan pandangan agama yang sempit. 
Seringkali diracuni dengan politik identitas. Wajar. Sekolah Islam Terpadu banyak diinisiasi oleh kader PKS. Pendidikan dijadikan sarana mencetak kader-kader.
Di Seragen, siswa Rohis mengintimidasi rekan putrinya yang tidak pakai jilbab. Itu terjadi di sekolah negeri. Bagaimana mungkin mereka bisa toleran pada siswa yang beragama lain, jika pada siswa seagama saja sudah hobi menteror.
Dan kelakuan seperti ini dianggap biasa. Bagian dari dakwah siswa. 
Orang-orang dengan pandangan dunia yang dikotomis --muslim dan non-muslim-- merasuki dunia pendidikan kita. Mereka menularkan pandangannya kepada anak didik. Bukan hanya di sekolah berlabel Islam Terpadu. Mereka juga ada di pendidikan umum. Menjadikan sekolah negeri seperti berorientasi agama.
Padahal ini Indonesia. Negeri yang diikat dengan semangat berbeda-beda tapi merupakan kesatuan. Jika semangat berbeda yang selalu ditonjolkan dalam dunia pendidikan, rasanya kita hanya sedang mencetak orang yang hilang keindonesiaan dalam dirinya. 
Jika belakangan sering dipertentangkan antara keindonesiaan dan keislaman, rasanya itu adalah hasil dari pendidikan yang mencetak pandangan dikotomis seperti ini.
"Membela agama ada dalilnya. Membela negara gak ada dalilnya," kata Felix Siauw. Pandangan ini sebagai dasar orang lebih terikat pada khilafah ketimbang Indonesia.
Maka orang tidak merasa berdosa menghianati negerinya. Mereka akan merasa dosa jika menentang ustadnya. Sedangkan si ustad tidak mengajarkan cinta tanah air. Malah mempertentangkan.
Masa depan bangsa sangat bergantung pada kualitas anak didik. Mereka penerus Indonesia. Jika suasana pendidikan kita seperti itu. Apa yang akan terjadi dengan Indonesia ke depan?
Rasanya ini adalah PR besar bangsa ini. Para bigot menjadikan dunia pendidikan kita berwajah muram. Keceriaan hilang di dunia anak-anak. Digantikan dengan ideologi keras dan kaku. Yang selalu menonjol-nonjolkan peebedaan.
Anak-anak sudah dikotak-kotakan dengan label agama. Jangan heran jika intoleransi kini terbesar melanda dunia anak-anak. Sejak meletek jadi janin, mereka sudah dibatasi isi kepalanya. 'Saya muslim, yang tidak sama dengan saya neraka tempatnya.'
Permusuhan disesapkan. Seperti menenam bom waktu yang sekali waktu akan meledak. 
Jika dalam peristiwa politik banyak anak-anak meneriakkan jihad yang salah kaprah. Itulah hasilnya. Ada satu video segerombolan anak bernyanyi 'bunuh Ahok.' Anak yang membedakan jahe dan lengkuas saja masih salah. Eh, diajarkan untuk berfikir ekstrim. 
Mengerikan.
Tapi itulah dunia pendidikan kita sekarang. Wajah intoleran hadir. 
Sebetulnya pendidikan berbasis agama silakan saja. Tapi mempertentangkan agama dengan keindonesiaan adalah problem serius. 
Silakan mengajarkan Islam pada anak didik. Tapi Islam yang justru menjadi penguat akar kebangsaan. Silakan mengajarkan Kristen atau Katolik, tapi Kristen dan Katolik yang mengindonesia. Jika malah dipertentangkan akan berefek serius bagi masa depan negeri ini.
Rasanya ini adalah PR berat Mendikti. Bukan soal kurikukum teknis yang memberi seperangkat anak didik kemampuan artifisial memasuki dunia industri. Yang justru mendasar adalah menanamkan bahwa mereka adalah warga Indonesia. Mereka dididik untuk menjamin keberlangsungan bangsa ini.
Membongkar semangat intoleran. Menanamkan sikap menghargai perbedaan. Mengembangkan rasa cinta tanah air. Dan memandang dunia tidak dikotomis dan hitam putih harus dibangkitkan kembali. Dunia pendidikan dituntut punya modal seperti itu.
Jika dunia pendidikan kita isinya selalu mempertentangkan perbedaan, sepertinya kita sedang menggali kuburan bagi negeri ini.
Untung saja Abu Kumkum tidak dididik dalam alam yang seperti itu. Sebagainl lulusan TK Tumben Lestari, Kumkum diwarisi semangat memandang perbedaan sebagai rahmat.

Jatuhnya Pesawat Ukraina karena Rudal Iran



Saat pesawat Boeing 737 Ukraina International Airlines PS752 mengangkut 176 penumpang jatuh, berseliweran spekulasi di dunia maya. Saya memilih diam. Karena keadaan masih sangat prematur untuk bersikap. Apalagi situasi jatunya pesawat itu setelah beberapa jam serangan Rudal Iran ke Irak menuju markas Militer AS. 
Kemudian secara resmi Teheran mengumunkan bahwa pesawat jatuh karena serangan rudal antipesawat dari militer Iran. Secara pribadi atas dasar kemanusiaan tentu siapapun mengutuk serangan rudal kepada pesawat komersial. Tetapi kita juga harus memaklumi situasi ketika itu. 

Penerbangan Ukraina International Airlines, PS752 lepas landas dari Bandara Internasional Imam Khomeini Teheran pada pukul 6:12 pagi waktu setempat, hanya beberapa jam setelah militer Iran meluncurkan beberapa rudal balistik mengarah pangkalan udara AS di Irak. 
Sebelumnya, Presiden Trump telah mengancam bahwa Amerika akan menyerang 52 target di Iran jika Iran membalas pembunuhan AS atas Qasem Soleimani. Anda bisa bayangkan situasi saat itu. Memang mencekam.
Jadi wajar saja bila setelah serangan itu, pasukan pertahanan udara Iran harus berada pada kondisi siaga tertinggi. Terlebih lagi, pesawat PS752 menghilang dari layar kontrol lalu lintas udara secara tiba-tiba, dan sebelum menghilang, pilot tidak meneriakan mayday. 
Dalam hitungan detik pesawat PS752 itu berada pada target serangan rudal antipesawat. Ketika pesawat muncul direspon secara otomatis oleh militer Iran. Dalam perang itu biasa saja. 
Selama 24 jam pertama, AS dan sekutunya tidak mengatakan apa-apa tentang penembakan. Reuters melaporkan bahwa "penilaian awal badan-badan intelijen Barat adalah bahwa pesawat itu mengalami kerusakan teknis." 
Kemudian, pada hari Kamis, Newsweek mengutip keterangan dari satu pejabat Pentagon dan satu lagi pejabat intelijen senior AS, yang mengatakan bahwa pesawat itu telah ditembak jatuh. Beberapa jam kemudian, perdana menteri Kanada Justin Trudeau mengkonfirmasi pernyataan itu di sebuah konferensi pers.
Peristiwa yang sama pernah terjadi pada 3 juli 1988. Ketika itu sedang berkecamuk perang Iran-Irak. Penerbangan Iran Air 655, Airbus A300 berpenumpang 290 orang ditembak jatuh oleh rudal USS Vincennes di selat Hormuz. Saat itu walau AS mengakui kelalaiannya dan minta maaf, namun tidak ada yang menyalahkan AS menyerang pesawat komersial sipil Iran. 
Apalagi pesawat Iran Air 655 mengarah ke kapal perang AS, yang tentu membuat semua crew kapal perang siaga penuh. Walau pilot Iran Air 655 sudah mengirim sinyal identifikasi pesawat sipil namun USS Vincennes tidak mau ambil resiko. Rudalpun diluncurkan.
Pada Juli 2014, Malaysia Airlines 777 sedang dalam perjalanan dari Amsterdam ke Kuala Lumpur jatuh di Ukraina Timur oleh Rudal Rusia. 298 penumpang tewas. Pada saat itu sedang terjadi pertempuran antara Proxy Rusia yang ingin memisahkan diri dan pemerinta Ukraina yang didukung AS. 
Selama berbulan-bulan media Barat berasumsi bahwa rudal itu pasti ditembakkan secara tidak sengaja oleh milisi yang tidak mengerti. Ternyata Rudal itu memang direncanakan oleh militer dan Intelijen Rusia, dengan menggunakan tangan milisi. Entah apa tujuannya. Yang jelas itu sedang perang.
Pada tahun 1983, Korean Air Lines Flight 007, ditembak jatuh oleh rudal Rusia. Saat itu perang dingin antara Unisoviet dan AS sedang puncaknya. AS dan Rusia dalam selalu siaga penuh. Saat pesawat Korean Air Lines melintasi udara Soviet di dekat Kamchatka, Soviet mengirim Sukhoi Su-15 untuk mencegat. Terjadi miskomunikasi. 
Sehingga memaksa Pilot Sukhoi Su-15 melepaskan rudal udara ke udara. Namun, pesawat besar itu tidak segera hancur. Selama beberapa menit, pilot berjuang untuk mengendalkan pesawat yang rusak, sampai akhirnya terjun ke Laut Jepang. Semua 269 penumpang dan anggota kru tewas.
Namun dalam hal serangan Rudal antipesawat yang menjatuhkan pesawat komersial Ukraina, itu terjadi dengan direncanakan oleh AS. AS berhasil melakukan perang electronic dengan menghilangkan pesawat PS752 dari radar traffic air control dan akhirnya masuk dalam target serangan rudal Iran. 
AS berhasil mempermalukan Iran dan sekaligus menarik simpati publik international. Namun hebatnya permainan ini dapat ditebak. Iran cepat menyadari bahwa pesawat jatuh itu satu hal, dan Iran harus mengakui sebagai sebuah kesalahan, tetapi sikap AS yang menginginkan konsesi politik dari kejatuhan pesawat PS752 itu lain hal. 
Ini akan semakin jauh upaya perdamaian yang dicanangkan oleh Trump. Iran memastikan perang tidak akan berakhir. Mungkin tidak langsung tetapi dengan cara lain akan terus berlangsung.

Matamu Begitu Kecil



Suatu ketika, mungkin Rumi lagi ngobrol dengan Tuhan. Orang-orang sufi memang terlihat lebih rileks, bisa ngobrol, mungkin juga ngobar (ngopi bareng) tuhan. Beda dengan jurusan sarengat, dikit-dikit ngomongin surga, juga neraka. 
"Hati saya begitu kecil, hampir tak terlihat. Bagaimana Anda bisa menempatkan kesedihan besar di dalamnya?" demikian Rumi mengandaikan dirinya bertanya dalam puisinya. Anda yang dimaksud di situ adalah Tuhan, yang kemudian menjawab; "Dengar, matamu lebih kecil, namun engkau bisa melihat dunia."

Di dalam matamu, seluruh isi dunia kau masukkan, dengan melihatnya tentu. Bukan dengan cara memasukkan isi dunia ke rongga matamu. Tapi, bukankah demikian engkau memasukkan segala kesedihan ke dalam hatimu? Hingga sesak, tumpat-pedat?
Itulah sebabnya, kebahagiaan khayalan sebagaimata tulis Rene Descartes, lebih bernilai daripada kesedihan yang nyata. Hingga ia bisa dieksploitasi begitu rupa. Seperti para pengemis dan penarik cycle rickshaw di India. Kaum miskin negeri Mahatma Gandhi itu, menabung sebagian penghasilannya untuk menonton film. 
Di dalam gedung bioskop, orang-orang kalah bisa merasai kemenangannya. Dalam banyak film India, tuan tanah dan Polisi, bisa dikalahkan. Demikian kostum yang gemerlap, tarian massal dengan tari dan nyanyian gumbira ria. Dalam film, mereka menemu dan bertemu pahlawannya. Dan kita tahu, industri film India tak mampu dikalahkan Hollywood volume dan skalanya. 
Bukan hanya film, bahkan partai politik dan agama, juga acap diperankan dalam pada itu (ini gaya bahasa 'Api di Bukit Menoreh' SH Mintardja). Meski tak sebagaimana imbal-balik nonton film, dalam politik dan agama janji sorga bisa berbalik arah. Hingga orang bisa jadi korban tipu-tipu agen perjalanan haji, sampai penjual rumah syariah berkah bertubi-tubi. Jadinya malah bertuba-tuba.
Sementara, pendidikan yang mestinya jadi agen perubahan, justeru menjadi agen gas tiga kiloan. Itu pun belum tentu full tiga. Kalau habis harus beli. Kalau yang jual bilang kehabisan, baru kita berpikir skala prioritas. Hidup seperti cinta sekolah dasar, kata Chairil Anwar. Hanya menunda kekalahan. Apakah sekolah hanya menunda angkatan kerja? Yang ada manusia tergantung. Bukan manusia bebas. 
Walhal menurut Sartre, sebagaimana juga Rousseau, manusia dikutuk bebas. Kenapa kita seolah justeru dikutuk tidak bebas? Agar bisa jadi sumber pendapatan politikus, ustadz dan ustadzah? Pemilik Cafe? Petugas Pajak? Seniman? Motivator? Disainer renda celdam dan bra? Pendeta? Pelukis? Debt-collector? Dramawan dan dramawati? Mark Zuckerbergh?
Tapi, tiba-tiba Will Durant, sejarawan dan penulis Amerika akhir abad 19, bikin kita pusing. "Manusia menjadi bebas ketika dia menyadari bahwa dia tunduk pada hukum," katanya. Bukankah kita tak pernah diajari tunduk, patuh pada aturan? Bukankah kita bangsa pejuang, semakin melanggar semakin heroik? Mari menjura!