Saturday, November 9, 2019

SDK Santa Maria II Dongkrak Semangat Literasi Membaca Kitab Suci

Literasi-Kitab-Suci-2.jpg

 SDK Santa Maria II Kota Malang mendobrak semangat anak-anak untuk membaca di usia dini. Salah satu kebiasan baik yang diterapkan adalah 'Literasi Paripurna Membaca kitab Suci'.
Gerakan literasi bersama membaca kitab suci ini dilaksanakan oleh seluruh siswa – siswi kelas 1 – VI. Yang dilaksanakan wajib di setiap hari kamis di jam khusus literasi (sebelum jam pelajaran berlangsung)
Sr Veronique Marie SPM menjelaskan gerakan literasi anak ini mendukung program pemerintah yang mengajak semua komunitas pendidikan memulai kebiasaan untuk membaca sejak dini. Selain itu, karena sekolah kami berciri khas katolik, kami mengupayakan mengajak anak untuk mengenal bacaan Kitab Suci yang dikemas secara menarik dan mudah dipahami anak.
Gerakan Literasi ini dipandu oleh buku panduan khusus Paripurna Membaca Kitab Suci yang dibuat secara khusus dari Delegatus Kitab Suci Banjarmasin. Anak diajak untuk membaca Kitab Suci yang sudah di tulis per ayatnya. Sehingga anak mudah mencari dan menandai kalau sudah selesai membaca. Selain literasi di dalam kelas, anak juga diajak untuk melihat langsung kisah di dalam kitab suci melalui film pendek, dan diberikan kuis interaktif untuk melihat sejauh mana anak membaca dan memahami Kitab Suci.
Diharapkan gerakan literasi Paripurna Kitab Suci di SDK Santa Maria II Kota Malang ini menginspirasi bagi banyak orang untuk memulai membaca kitab suci sejak dini. Dan anggapan membaca Kitab Suci membosankan, itu dapat berubah menjadi menyenangkan dan tidak membosankan.

Mantan Yakuza Menjadi Seorang Pendeta.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, teks
Tatsuya Shindo adalah mantan gengster Jepang atau kelompok yang akrab disebut Yakuza. Kini, Shindo telah berbalik dari dunia kelam itu dan memilih untuk berdiri di atas mimbar dan membagi khotbah kepada ratusan anggota jemaat gereja yang hadir.

Sebagian besar anggota jemaat yang dipimpinya bahwa adalah para mantan Yakuza. “Sebelumnya, kita adalah anggota geng yang bermusuhan, saling menembakkan sejata. Kini kita menyembah Tuhan yang sama,” ucap Shindo, seperti dilansir CNN, Selasa (23/2).
Kebanyakan dari mantan Yakuza ini mengaku bergabung dengan kelompok mafia Jepang itu sejak berusia muda. Sebagian diantaranya berasal dari keluarga berantakan dan memilih bergabung dengan Yakuza sebagai rumah. Mereka beranggapan bahwa kehidupan anggota Yakuza begitu mengasyikan. Meski begitu, mereka menyadari ada harga yang harus dibayar, yaitu darah.
“Bosku terbunuh. Orang-orang tewas dalam perebutan kekuasaan. Kaki-kai yang ditembus timah panas, temanku sesama pemakai narkoba meninggal akibat keracunan. Bunuh diri kerap terjadi, juga kematian tiba-tiba. Aku telah menyaksikan banyak kematian. Aku melihat bawahanku ditusuk hingga mati,” terangnya.
Shindo menjelaskan, awal perjumpaannya dengan Tuhan terjadi ketika dirinya mendekap di dalam sel penjara. Dia banyak membaca di balik jeruji besi dan menemukan Tuhan di sana. Setelah dibebaskan, Shindo tak lagi kembali menjadi anggota Yakuza. Dia memilih untuk mendalami agama dan menjadi pendeta sudah hampir 10 tahun lamanya.
Meski tidak mudah bagi seorang Yakuza untuk kembali menjalani kehidupan yang normal, namun kehadiran Shindo telah mengubahkan banyak diantara mantan Yakuza lainnya. Dalam perjalanan baru Shindo ini, dia telah membawa sekitar 100 orang kepada Tuhan dan membaptis mereka, termasuk ibunya, Yoshini Shindo.
“Ketika dia kembali dari penjara, ia meminta maaf dan berkata, ‘Aku bertahan hidup selama ini demi ibu’. Ketika mendengar kata-kata tersebut, saya memutuskan untuk melupakan segala sesuatu yang terjadi di masa lalu. Dan sekarang, saya sangat bahagia,” ucap sang ibu Yoshini.
Setelah menjalani kehidupan baru, Shindo dan mantan-mantan Yakuza lainnya mengaku merasakan kehidupan yang lebih bahagia. Sebab mereka masih berkesempatan mengubah jalan hidup yang sebelumnya kelam dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

PULUHAN BIKSU DAN RATUSAN RIBU ORANG PERCAYA YESUS DI TIBET


Kuasa keselamatan turun atas Tibet tepatnya di Tiongkok orang beragama mayoritas Budha, kejadiaanya 62 biksu dan sebanyak 200.000 orang Tibet dan puluhan biarawan memutuskan untuk memilih Yesus sebagai juru selamatnya.

Tibet kebanyakan Buddha, tetapi ada juga beberapa Muslim dan Kristen, menurut sumber-sumber yang kami dapatkan.

Tahun lalu, seorang imam Buddha Tibet memeluk Yesus Kristus dan menjadi seorang pendeta Kristen setelah melihat kasih Kristus ditunjukkan oleh sekelompok pekerja Kristen yang membantu keluar dan memberikan barang-barang bantuan kepada rakyat wilayah itu ketika gempa besar melanda daerah tersebut, menurut untuk Joe Handley, presiden Access Asia, sebuah organisasi Kristen berusaha untuk menyebarkan Firman Tuhan di Asia Selatan.

Sekarang, benih cinta Kristen telah tumbuh. Dalam update, Handley melaporkan bahwa 62 biksu lainnya telah memutuskan untuk mengikuti jejak mantan lama Budha dan sekarang mengikuti Kristus juga.

Dan itu tidak semua. “Hanya dalam tahun lalu saja, [pemimpin gereja] memperkirakan bahwa lebih dari 200.000 orang telah datang kepada Kristus sebagai hasil dari kerja keras dari komunitas Kristen di sana,” kata Handley.

Apa yang menyebabkan perpindahan Agama ke Kristen?

Handley mengatakan ini semua karena kerja pekerja Kristen yang memberikan harapan dan penyembuhan kepada orang-orang Tibet di pasca gempa yang menghancurkan tahun lalu. “Mereka belum melihat Buddha, Hindu, atau kelompok agama lain yang membantu di tengah-tengah reruntuhan. Sebaliknya, minggu demi minggu, pengikut Yesus yang telah membuktikan ujian waktu, mengorbankan nyawa mereka sendiri untuk melayani dan menjadi tangan dan kaki Yesus, “katanya.

Asian Access pemegang peran penting dalam gerakan spiritual ini oleh para pemimpin gereja pelatihan dengan tujuan membangun pertumbuhan rohani jangka panjang di wilayah tersebut.

“Asian Access hanya memiliki hak untuk datang bersama pendeta seperti orang-orang yang telah menabur dalam kehidupan imam Tibet ini,” kata Handley. “Kami menabur untuk, membangun kapasitas mereka sehingga mereka dapat mencapai komunitas mereka.”

“Tuhan melakukan hal-hal menakjubkan ketika Anda menabur benih dan melihat mereka tumbuh lebih dalam di dalam Dia, tumbuh lebih kuat sebagai pemimpin, belajar bagaimana untuk mereproduksi pemimpin lain, dan kemudian menyebar melalui upaya penanaman gereja dengan cara yang sederhana yang luar biasa,” tambahnya.



Asian Access sekarang mencari doa dan keuangan dukungan dari orang-orang Kristen di seluruh dunia sehingga organisasi bisa membina gerakan spiritual di Asia Selatan.

Kristus dan Agama-agama Asia

Sebelum mempelajari lebih lanjut gambaran Asia tentang Kristus dalam berbagai negeri di Asia, seperti India dan Cina, ada baiknya jika diberikan beberapa penjelasan mengenai batas-batas agama dan budaya yang ada di Asia. Dalam hubungan ini Aloysius Pieris menunjuk pada tiga hal, yakni:
1.    Aneka ragam bahasa di Asia;
2.    Integrasi dari unsur-unsur kosmis dan metakosmis dalam agama-agama di Asia (untuk ini dipakai pembedaan antara lokiya dan lok'uttara dalam Buddhisme);
3.    Kehadiran ajaran-ajaran soteriologis non-Kristen (ajaran­aran keselamatan) yang mempunyai pengaruh luar biasa.
Pertama-tama Pieris menyebut tujuh daerah bahasa besar yang berbeda, yaitu bahasa Semit, Ural-Alta, Indo-Iran, Dravida, Sino Tibet, Melayu-Polinesia dan Jepang. Pieris melihat bahasa sebagai cara baru untuk mengalami kebenaran. Ia berpendapat hal itu mengandung arti, bahwa pluralisme bahasa merupakan petunjuk bagi keaneka-ragaman agama-budaya dan sosial politik. Bahasa adalah pengalaman dari kenyataan agamawi yang diungkapkan dengan agama. Ia kemudian mempertanyakan apa sebenarnya keberadaan hakiki yang dikandung kebudayaan melalui bahasa dan lambangnya sendiri. Ia menegaskan, bahwa bukan hanya kitab-kitab suci seperti Kitab-kitab Veda harus diberi perhatian, tetapi terutama bahasa rakyat. Dengan demikian akan ditemui dasar-dasar kebenaran yang digumuli oleh setiap agama.
Kerangka yang membatasi dunia keagamaan di Asia, menurut pandangannya, terdiri dari dua unsur:
a.       agama kosmis, yang berfungsi sebagai dasar dan
b.      soteriologi meta-kosmis yang merupakan bangunan induk.
Yang disebut “agama kosmis” adalah yang dulu dikenal dengan nama “animisme”. Yang dimaksudkan di sini ialah pendirian dasar yang secara psikhologis dipegang manusia religius (homo religiosus) menghadapi rahasia kehidupan. Dalam hubungan ini ditunjuk kekuatan kosmos seperti panas, api, angin, badai, tanah, gempa bumi, lautan, hujan, banjir, yang kita butuhkan dan kita takuti. Unsur-unsur yang membentuk kepercayaan ini ialah ritus, upacara sekelompok perantara. Kepercayaan ini boleh dikatakan sudah menetap di Asia dan sudah membaur dengan agama Hindu, Buddha dan Tao, yang oleh Pieris disebut tiga agama meta-kosmis.
Menanamkan “agama-agama yang mempunyai kitab” seperti agama Islam di Indonesia dan agama Katolik Roma di Filipina, menurut Pieris agak lebih gampang karena kepercayaan-keper­cayaan kosmis di sini didapatkan hampir utuh seluruhnya. Kalau perkawinan antara kepercayaan kosmis dan kepercayaan meta­kosmis dapat dilaksanakan seperti di Sri Langka, India, Birma dan lain-lain, maka baik agama Islam maupun Kristen tidak dapat menghapuskan kebudayaan-kebudayaan tersebut.
Mengenai agama Buddha is berpendapat bahwa agama tersebut tersebar di seluruh Asia dan telah masuk di dalam hampir seluruh daerah bahasa (bahkan untuk beberapa waktu ke dalam daerah bahasa Semit pada waktu Kaisar Asyoka mengadakan misi ke Siria dalam abad ke-3 sM.). Dalam 20 daerah di Asia, agama Buddha adalah agama resmi atau faktor kultural yang sangat berpengaruh. Perkembangan agama Hindu dan Tao di pihak lain, hanya terbatas pada satu kelompok linguistik yang sama.
Pieris kemudian - pokok yang ketiga - menunjuk pada kehadiran dari ajaran-aran keselamatan 'non-Kristen' yang sangat berpengaruh. Ia berhenti pada citra pelembagaan agama Buddha dengan penghayatan kepercayaan yang berdimensi kosmis dan meta-kosmis.
Menyelidiki sumbangan pikiran dari lebih banyak teolog Kristen (bahkan juga dari yang “bukan Kristen”) dan pemikir-pemikir mengenai citra Asia dari Yesus Kristus, tentu akan merupakan suatu usaha yang sangat menarik. Dalam hubungan ini hendaknya dipikirkan antara lain tentang Jepang.
Dalam tahun tahun yang sulit, sesudah Perang Dunia II, di mana Jepang mengalami kekalahan, K. Kitamori menulis tentang yang is sebut teologi penderitaan Allah. Belum lama berselang, karya-karya tulis Kosuke Koyama menjadi terkenal. Menanggapi pandangan Kitamori, Tsutomu Shoji menulis bahwa teologi ini selaras dengan perasaan kepahitan hidup yang dialami bangsa Jepang selama masa pemerintahan para Samurai dan militerisme yang berkepanjangan. Namun, katanya, pengertian dari pem­beritaan Injil seperti itu, terbatas terutama sampai pada taraf psikologis dan pribadi serta tidak membuka mata orang Kristen terhadap keadaan sosial sebenarnya, yakni penderitaan oleh rakyat. Oleh karena itu konsep pembebasan juga terbatas hanya sampai pada tingkat itu. Teolog yang lain, Takizawa Katsumi juga menjelaskan, bahwa peristiwa “Imanuel” yang ash meminta keterlibatan teologis dan politis dalam menghadapi masalah­masalah masa kini.
Kemudian dapat saja dibicarakan mengenai sumbangan­sumbangan pada “kristologi” Asia dari Korea dan Indonesia. Di sini yang dibicarakan secara lebih rinci hanya mengenai gambaran-gambaran Kristus di India dan dalam konteks “Cina”.
“Kristus pada Jalan Raya India” (Christ of the Indian Road) adalah judul buku yang menarik, yang ditulis oleh penginjil terkenal E. Stanley Jones. Bagaimana Yesus ditanggapi dan bagaimana Ia melalui jalan-jalan India?
Sidang Raya III Dewan Gereja-gereja se-Dunia pada tahun 1961 di New Delhi, adalah sidang raya Dewan Gereja-gereja se-Dunia yang pertama dan yang sampai sekarang satu-satunya diadakan di Asia. Pada sidang itu dibicarakan mengenai kebutuhan yang mendesak untuk berdialog kembali dengan agama-agama yang sedang berubah-ubah. “Kita harus berbicara dengan mereka tentang Kristus dengan menyadari bahwa melalui kita Kristus berbicara kepada mereka dan melalui mereka berbicara kepada kita.”' Dalam hubungan dengan India sudah sejak lama ada respons terhadap Kristus? Stanley Samartha membedakan tiga sikap, yaitu memberikan jawaban kepada Kristus tanpa penyerahan diri, jawaban serta penyerahan diri oleh mereka yang tetap tinggal di luar gereja-gereja yang dilembagakan, dan respons oleh mereka yang menjadi anggota gereja.

Yang masuk kategori pertama, yakni mereka yang memang menjawab panggilan Kristus, tetapi tetap memeluk agama Hindu, antara lain Raja Mohan Roy (1772-1833). Ia menggarap suatu kristologi tentang Kristus, yang bermoral serta berlatar belakang teisme India. Selanjutnya dapat disebut juga “Kristus yang bersifat mistik” dari Sri Ramakrishnan (1836-1886). Yang terakhir ini mendapat penglihatan dari Kristus. Ia percaya bahwa Kristus adalah penjelmaan Allah, tetapi bukan satu-satunya penjelmaan. Penjelmaan yang lain adalah Buddha dan Krishna. Contoh lain dari “respons” tanpa “ikatan” seperti disebut Samartha, dalam arti kata tidak terikat pada gereja, adalah Mahatma Gandhi.

Kristus kolonial di Asia

Kristus yang dibawakan para penginjil dan misionaris sering berhubungan erat dengan kolonialisme, walaupun tidak senantiasa. Kebanyakan yang diberitakan adalah “Kristus yang menentang kebudayaan dan agama” (a), mengutip ungkapan Niebuhr, dan Ia juga Kristus yang menindas (b).
a.       Dalam era pengembangan gereja-gereja Eropa, Kristus “kolonial” bermusuhan dengan agama agama dari Dunia Ketiga yang dianggap agama-agama palsu. Bahkan pekerjaan Roberto de Nobili dan Mattheo Ricci tidak dikecualikan. Roberto de Nobili, anggota ordo Yesuit, pada 1606 di India membela peran serta orang-orang Kristen dalam perayaan-perayaan I lindu seperti Hari Raya Pongal. Ia mengusulkan agar orang Kristen memasak nasi basil panen yang pertama, di kaki salib yang memang dipasang untuk maksud itu. Namun pendekatannya itu hanya bertujuan agar agama Kristen dalam bentuk-bentuknya yang nyata, tidak akan menimbulkan masalah. Ia tidak berusaha untuk menyesuai­kan teologinya. Bagi dia, hanya teologi dari zaman itu, yakni teologi Trente, yang berlaku.
                                                                
Pada tahun 1706 Bartholemeus Ziegenbalg, penginjil Protestan pertama tiba di India. Dalam laporannya Remarkable Voyage (tidak dicetak) is menulis: “Saya tidak menolak semua apa yang mereka peNari, tetapi lebih dari itu saya bergembira karena mengetahui bahwa di antara orang kafir dahulu kala cahaya kecil dari Injil sudah mulai bersinar”. Ia menghendaki agar pembaca di Eropa melihat: “Betapa jauh mereka berkembang, karena diterangi oleh akal budi dalam pengetahuan mengenai Allah dan tata alam, serta bagaimana mereka sering mempermalukan banyak orang Kristen karena sifat kejujuran mereka, sebagai sikap hidup mereka dan bagaimana mereka berhasrat besar untuk mencapai kehidupan yang akan datang”.” Namun penghargaan terhadap “agama-agama alam” dan “akal budi” semacam itu, sekalipun sangat dipengaruhi pandangan abad ke-17 dan ke-18, pada zaman itu belum dimenger­ti orang. Apa yang dikatakan A.H. Francke (1663-1727) tak dapat disangsikan lagi, yang adalah pandangan penginjil-penginjil Barat pada umumnya untuk waktu yang cukup lama, “Para penginjil diutus untuk memberantas agama kafir di India, bukan untuk menyebarkan kekafiran yang tidak ada gunanya di Eropa.”

b.      Tidak dapat disangkal bahwa sering terjadi suatu “persekutu­an yang tidak suci antara para misionaris, tentara dan pedagang­-pedagang”. Agama Kristen “yang bersifat perdagangan” telah memasang salib di Asia dengan bantuan penguasa-penguasa kolonial dari luar negeri.” Jikalau kaum Katolik Roma telah membawa Kristus ke Asia, sebagaimana Ia dikenal oleh orang Spanyol, Portugis dan kemudian orang Perancis, Italis, Belgia, Irlandia dan Amerika Utara, maka kaum Protestan membawa serta versi Anglo-Saksis agama Kristen.” Kristus dibawa serta ke Asia dalam hubungan dengan kolonialisme, oleh karena itu tentu saja tidak banyak kritikan terhadap eksplotasi rakyat. Demikian teolog Katolik Roma dari Sri Langka, Tissa Balasuriya. Orang bicara tentang rencana “pembebasan” Allah, tetapi yang sebenarnya dimaksudkan ialah pesan bagi emansipasi atau pembebasan secara pribadi saja. “Kristologi” dikembangkan ke arah individualisme. Yesus mementingkan perubahan hati, bukan perombakan masyara­kat. Tissa Balasuriya menegaskan kemudian, bahwa teologi itu lebih memusatkan perhatian pada gereja daripada Kristus, atau bahkan Allah. Dalam abad ke-19 para misionaris menekankan bahwa hubungan pribadi dengan Yesus harus dihayati sebagai sobat. Yesus dilihat sebagai tokoh yang harus membebaskan umat manusia dari dosa warisan Adam. Tissa Balasuriya berpendapat bahwa hampir seluruh kehidupan Katolik didasarkan pada pandangan individualistis tentang Yesus dan Maria. Dalam hubungan ini ia menunjuk pada pengaruh besar dari Thomas a Kempis. Bukankah bab pertama dari karyanya Imitatio Christi membahas mengapa dunia harus dianggap hina. Thomas a Kempis hampir sepenuhnya bersikap negatif terhadap alam, dunia, kehidupan dan cinta manusiawi. Menurut Tissa Balasuriya, karena pandangannya begitu sempit, ia bertanggung jawab atas pemutar­balikan citra Yesus Kristus, yang walaupun dengan maksud baik, berakibat fatal. “Keseluruhan penggabungan teologi, kerohanian dan pengabdian cocok baik dengan latar belakang feodalisme ketimuran, despotisme dan kepercayaan pada tahyul maupun dengan kapitalisme Barat dalam tahap imperialisme.”

Sama seperti para teolog pembebasan dari Amerika Latin, Tissa Balasuriya menandaskan bahwa penafsiran Yesus Kristus yang seperti itu, mengandung arti bahwa kehidupan dan kematian Yesus hanya dilihat sebagai tindakan ketaatan kepada Allah. Keputusan Yesus sendiri sebagai hasil pertimbangan logis, yang Ia lakukan dalam konteks keadaan masyarakat pada waktu itu diabaikan. Orang sama sekali mengabaikan kasih-Nya kepada umat manusia, yang berada dalam keadaan tertindas dan proses pembebasan sebagai akibatnya.

Aloysius Pieris mempertajam pernyataannya dengan menga­takan bahwa zending dan misi masa kini membuat kesalahan yang sama, yakni melalui rencana-rencana pengembangan yang padat menempatkan gereja-gereja Asia dalam oasis-oasis Barat, yaitu dalam proyek-proyek besar bersifat pendidikan pribadi, atau pusat­pusat teknologi atau pertanian, yang dibiayai oleh bantuan dari luar negeri. Ia melihat adanya kelangsungan dari suatu misiologi “perebutan” dan “kekuasaan” di dalamnya, yang pada pendapatnya adalah ciri-ciri khas masa kolonialisme.

KRISTUS DI ASIA


     Dalam gambaran tentang Perjamuan Malam Terakhir, seniman Bengali Jamini Roy (1887-1972), melukiskan Kristus dengan mata besar termangu-mangu bagaikan mata ikan. Oleh beberapa pihak gambaran ini dihubungkan dengan ikan yang tidak rnempunyai kelopak mata, jadi tidak pernah berkedip-kedip. Dengan demikian melambangkan betapa Allah senantiasa siap sedia untuk meleng­kapi kebutuhan umat-Nya!

Dalam Bagian ini pembahasan ditujukan kepada gambaran atau gambaran-gambaran Kristus di Asia. Setelah diberikan suatu keterangan singkat mengenai gereja-gereja tua di sana, disinggung sedikit mengenai “Kristus yang kolonial”, yang diserahkan kepada Asia. Kami mengemukakan secara ringkas konteks agama Asia yang terutama pluralistis (vii), setelah itu beberapa gambaran dipilih dari sekian banyak kristologi dan gambaran tentang Kristus dibahas secara mendetail, yakni dari seorang teolog Katolik-Roma [Raymond Panikkar] dan seorang teolog Protestan [Stanley Samartha] (viii). Dalam bagian terakhir dibicarakan mengenai arti Yesus dalam hubungan dengan ajaran Tao, menurut karya teolog Korea, Yang Young Lee.
Yesus datang dari Asia. Dan segera terdapat gereja-gereja Kristen di berbagai tempat di Asia. Gereja yang paling misioner dalam abad-abad pertama ialah Gereja Nestorian, yang berkembang sampai ke Cina. Namun dalam abad-abad kemudian gereja ini lenyap juga dari bagian-bagian besar dari benua ini. Peristiwa ini juga disebut “Gerhana matahari” dari agama Kristen di Asia. Di Asia Barat atau Timur Tengah gereja-gereja purba tersisa dalam wujud yang disebut Gereja-gereja Ortodoks, yaitu Gereja Ortodoks Siria (Siria, Libanon dan Turki), Gereja Nestorian atau Assyria (terutama di Irak), kaum Maronit (Libanon) dan orang-orang Armenia.
Dari seluruh benua Asia, tempat tinggal 60% dari penduduk dunia dan 75% dari orang miskin sedunia, hanya 2% dari penduduknya beragama “Kristen”. Bagian terbesar dari jumlah itu terdapat di Filipina dan Indonesia, dua negara yang merupakan pengecualian dari “hal yang lazim” di Asia. Dapat dikatakan bahwa penduduk Amerika Latin diperkirakan seluruhnya beragama Kristen dan di Afrika, terutama sebelah selatan gurun Sahara, yang adalah bagian terpenting, juga Kristen. Tetapi di Asia keadaannya sama sekali lain. Oleh karena itu pertanyaan tentang bagaimana Yesus ditanggapi, sekaligus merupakan pertanyaan tentang bagaimana hubungan Yesus Kristus dan gereja-gereja Kristen dengan agama-agama lain di Asia. Yang dimaksudkan terutama agama-agama “besar” seperti agama Hindu, Buddha dan ajaran Tao, yakni “ajaran-ajaran keselamatan”, yang berbeda dengan agama Kristen.

Teolog Asia yang berasal dari Sri Langka, Aloysius Pieris menulis: “Ke mana pun kita cari untuk mendapat Kristus yang berwajah Asia, tidak akan berhasil, bilamana kita tidak ikut serta dalam usaha pencarian bangsa Asia sendiri, dalam jurang yang amat dalam dari mana agama dan kemiskinan sama-sama berasal: yaitu pada 'Allah yang telah menyatakan Mammon sebagai musuh­Nya' (Mat 6:24).” Pada kesempatan yang lain Aloysius Pieris menyatakan bahwa gereja di Asia hanya dapat menjadi gereja milik Asia, jika dua kenyataan yang besar dari Asia ia perhatikan, yakni kemiskinannya dan keberagamaannya. Ia berpendapat bahwa sumber kegagalan dari agama Kristen di Asia - untuk jelasnya, usaha zending dan misi yang terakhir - harus dicari dalam penggabungannya dengan Mammon itu, pemerasan komersial dan kolonial serta penolakan gereja untuk menerobos ke dalam keberagamaan bersifat kebiaraan yang ia sebut sebagai “soteriologi­soteriologi (ajaran keselamatan) bukan Kristen”.