
Sebelum mempelajari lebih
lanjut gambaran Asia tentang Kristus dalam berbagai negeri di Asia, seperti
India dan Cina, ada baiknya jika diberikan beberapa penjelasan mengenai
batas-batas agama dan budaya yang ada di Asia. Dalam hubungan ini Aloysius
Pieris menunjuk pada tiga hal, yakni:
1.
Aneka ragam bahasa di Asia;
2.
Integrasi dari unsur-unsur kosmis dan metakosmis dalam agama-agama di Asia
(untuk ini dipakai pembedaan antara lokiya dan lok'uttara dalam
Buddhisme);
3.
Kehadiran ajaran-ajaran soteriologis non-Kristen (ajaranaran keselamatan)
yang mempunyai pengaruh luar biasa.
Pertama-tama Pieris menyebut
tujuh daerah bahasa besar yang berbeda, yaitu bahasa Semit, Ural-Alta,
Indo-Iran, Dravida, Sino Tibet, Melayu-Polinesia dan Jepang. Pieris melihat
bahasa sebagai cara baru untuk mengalami kebenaran. Ia berpendapat hal itu
mengandung arti, bahwa pluralisme bahasa merupakan petunjuk bagi
keaneka-ragaman agama-budaya dan sosial politik. Bahasa adalah pengalaman dari
kenyataan agamawi yang diungkapkan dengan agama. Ia kemudian mempertanyakan apa
sebenarnya keberadaan hakiki yang dikandung kebudayaan melalui bahasa dan
lambangnya sendiri. Ia menegaskan, bahwa bukan hanya kitab-kitab suci seperti
Kitab-kitab Veda harus diberi perhatian, tetapi terutama bahasa rakyat. Dengan
demikian akan ditemui dasar-dasar kebenaran yang digumuli oleh setiap agama.
Kerangka yang membatasi dunia keagamaan di Asia,
menurut pandangannya, terdiri dari dua unsur:
a. agama kosmis, yang
berfungsi sebagai dasar dan
b. soteriologi meta-kosmis
yang merupakan bangunan induk.
Yang disebut “agama
kosmis” adalah yang dulu dikenal dengan nama “animisme”. Yang dimaksudkan di
sini ialah pendirian dasar yang secara psikhologis dipegang manusia religius (homo
religiosus) menghadapi rahasia kehidupan. Dalam hubungan ini ditunjuk
kekuatan kosmos seperti panas, api, angin, badai, tanah, gempa bumi, lautan,
hujan, banjir, yang kita butuhkan dan kita takuti. Unsur-unsur yang membentuk
kepercayaan ini ialah ritus, upacara sekelompok perantara. Kepercayaan ini
boleh dikatakan sudah menetap di Asia dan sudah membaur dengan agama Hindu,
Buddha dan Tao, yang oleh Pieris disebut tiga agama meta-kosmis.
Menanamkan “agama-agama
yang mempunyai kitab” seperti agama Islam di Indonesia dan agama Katolik Roma
di Filipina, menurut Pieris agak lebih gampang karena kepercayaan-kepercayaan
kosmis di sini didapatkan hampir utuh seluruhnya. Kalau perkawinan antara
kepercayaan kosmis dan kepercayaan metakosmis dapat dilaksanakan seperti di
Sri Langka, India, Birma dan lain-lain, maka baik agama Islam maupun Kristen
tidak dapat menghapuskan kebudayaan-kebudayaan tersebut.
Mengenai agama Buddha is
berpendapat bahwa agama tersebut tersebar di seluruh Asia dan telah masuk di
dalam hampir seluruh daerah bahasa (bahkan untuk beberapa waktu ke dalam daerah
bahasa Semit pada waktu Kaisar Asyoka mengadakan misi ke Siria dalam abad ke-3
sM.). Dalam 20 daerah di Asia, agama Buddha adalah agama resmi atau faktor
kultural yang sangat berpengaruh. Perkembangan agama Hindu dan Tao di pihak
lain, hanya terbatas pada satu kelompok linguistik yang sama.
Pieris kemudian - pokok
yang ketiga - menunjuk pada kehadiran dari ajaran-aran keselamatan
'non-Kristen' yang sangat berpengaruh. Ia berhenti pada citra pelembagaan agama
Buddha dengan penghayatan kepercayaan yang berdimensi kosmis dan meta-kosmis.
Menyelidiki sumbangan
pikiran dari lebih banyak teolog Kristen (bahkan juga dari yang “bukan
Kristen”) dan pemikir-pemikir mengenai citra Asia dari Yesus Kristus, tentu
akan merupakan suatu usaha yang sangat menarik. Dalam hubungan ini hendaknya
dipikirkan antara lain tentang Jepang.
Dalam tahun tahun yang
sulit, sesudah Perang Dunia II, di mana Jepang mengalami kekalahan, K. Kitamori
menulis tentang yang is sebut teologi penderitaan Allah. Belum lama berselang,
karya-karya tulis Kosuke Koyama menjadi terkenal. Menanggapi pandangan
Kitamori, Tsutomu Shoji menulis bahwa teologi ini selaras dengan perasaan
kepahitan hidup yang dialami bangsa Jepang selama masa pemerintahan para
Samurai dan militerisme yang berkepanjangan. Namun, katanya, pengertian dari
pemberitaan Injil seperti itu, terbatas terutama sampai pada taraf psikologis
dan pribadi serta tidak membuka mata orang Kristen terhadap keadaan sosial
sebenarnya, yakni penderitaan oleh rakyat. Oleh karena itu konsep pembebasan
juga terbatas hanya sampai pada tingkat itu. Teolog yang lain, Takizawa Katsumi
juga menjelaskan, bahwa peristiwa “Imanuel” yang ash meminta keterlibatan
teologis dan politis dalam menghadapi masalahmasalah masa kini.
Kemudian dapat saja
dibicarakan mengenai sumbangansumbangan pada “kristologi” Asia dari Korea dan
Indonesia. Di sini yang dibicarakan secara lebih rinci hanya mengenai
gambaran-gambaran Kristus di India dan dalam konteks “Cina”.
“Kristus pada Jalan Raya
India” (Christ of the Indian Road) adalah judul buku yang menarik, yang
ditulis oleh penginjil terkenal E. Stanley Jones. Bagaimana Yesus ditanggapi
dan bagaimana Ia melalui jalan-jalan India?
Sidang Raya III Dewan
Gereja-gereja se-Dunia pada tahun 1961 di New Delhi, adalah sidang raya Dewan
Gereja-gereja se-Dunia yang pertama dan yang sampai sekarang satu-satunya
diadakan di Asia. Pada sidang itu dibicarakan mengenai kebutuhan yang mendesak
untuk berdialog kembali dengan agama-agama yang sedang berubah-ubah. “Kita
harus berbicara dengan mereka tentang Kristus dengan menyadari bahwa melalui
kita Kristus berbicara kepada mereka dan melalui mereka berbicara kepada
kita.”' Dalam hubungan dengan India sudah sejak lama ada respons terhadap
Kristus? Stanley Samartha membedakan tiga sikap, yaitu memberikan jawaban
kepada Kristus tanpa penyerahan diri, jawaban serta penyerahan diri oleh mereka
yang tetap tinggal di luar gereja-gereja yang dilembagakan, dan respons oleh
mereka yang menjadi anggota gereja.
Yang masuk kategori
pertama, yakni mereka yang memang menjawab panggilan Kristus, tetapi tetap
memeluk agama Hindu, antara lain Raja Mohan Roy (1772-1833). Ia menggarap suatu
kristologi tentang Kristus, yang bermoral serta berlatar belakang teisme India.
Selanjutnya dapat disebut juga “Kristus yang bersifat mistik” dari Sri
Ramakrishnan (1836-1886). Yang terakhir ini mendapat penglihatan dari Kristus.
Ia percaya bahwa Kristus adalah penjelmaan Allah, tetapi bukan satu-satunya
penjelmaan. Penjelmaan yang lain adalah Buddha dan Krishna. Contoh lain dari
“respons” tanpa “ikatan” seperti disebut Samartha, dalam arti kata tidak
terikat pada gereja, adalah Mahatma Gandhi.
No comments:
Post a Comment