Saturday, November 9, 2019

Kristus dan Agama-agama Asia

Sebelum mempelajari lebih lanjut gambaran Asia tentang Kristus dalam berbagai negeri di Asia, seperti India dan Cina, ada baiknya jika diberikan beberapa penjelasan mengenai batas-batas agama dan budaya yang ada di Asia. Dalam hubungan ini Aloysius Pieris menunjuk pada tiga hal, yakni:
1.    Aneka ragam bahasa di Asia;
2.    Integrasi dari unsur-unsur kosmis dan metakosmis dalam agama-agama di Asia (untuk ini dipakai pembedaan antara lokiya dan lok'uttara dalam Buddhisme);
3.    Kehadiran ajaran-ajaran soteriologis non-Kristen (ajaran­aran keselamatan) yang mempunyai pengaruh luar biasa.
Pertama-tama Pieris menyebut tujuh daerah bahasa besar yang berbeda, yaitu bahasa Semit, Ural-Alta, Indo-Iran, Dravida, Sino Tibet, Melayu-Polinesia dan Jepang. Pieris melihat bahasa sebagai cara baru untuk mengalami kebenaran. Ia berpendapat hal itu mengandung arti, bahwa pluralisme bahasa merupakan petunjuk bagi keaneka-ragaman agama-budaya dan sosial politik. Bahasa adalah pengalaman dari kenyataan agamawi yang diungkapkan dengan agama. Ia kemudian mempertanyakan apa sebenarnya keberadaan hakiki yang dikandung kebudayaan melalui bahasa dan lambangnya sendiri. Ia menegaskan, bahwa bukan hanya kitab-kitab suci seperti Kitab-kitab Veda harus diberi perhatian, tetapi terutama bahasa rakyat. Dengan demikian akan ditemui dasar-dasar kebenaran yang digumuli oleh setiap agama.
Kerangka yang membatasi dunia keagamaan di Asia, menurut pandangannya, terdiri dari dua unsur:
a.       agama kosmis, yang berfungsi sebagai dasar dan
b.      soteriologi meta-kosmis yang merupakan bangunan induk.
Yang disebut “agama kosmis” adalah yang dulu dikenal dengan nama “animisme”. Yang dimaksudkan di sini ialah pendirian dasar yang secara psikhologis dipegang manusia religius (homo religiosus) menghadapi rahasia kehidupan. Dalam hubungan ini ditunjuk kekuatan kosmos seperti panas, api, angin, badai, tanah, gempa bumi, lautan, hujan, banjir, yang kita butuhkan dan kita takuti. Unsur-unsur yang membentuk kepercayaan ini ialah ritus, upacara sekelompok perantara. Kepercayaan ini boleh dikatakan sudah menetap di Asia dan sudah membaur dengan agama Hindu, Buddha dan Tao, yang oleh Pieris disebut tiga agama meta-kosmis.
Menanamkan “agama-agama yang mempunyai kitab” seperti agama Islam di Indonesia dan agama Katolik Roma di Filipina, menurut Pieris agak lebih gampang karena kepercayaan-keper­cayaan kosmis di sini didapatkan hampir utuh seluruhnya. Kalau perkawinan antara kepercayaan kosmis dan kepercayaan meta­kosmis dapat dilaksanakan seperti di Sri Langka, India, Birma dan lain-lain, maka baik agama Islam maupun Kristen tidak dapat menghapuskan kebudayaan-kebudayaan tersebut.
Mengenai agama Buddha is berpendapat bahwa agama tersebut tersebar di seluruh Asia dan telah masuk di dalam hampir seluruh daerah bahasa (bahkan untuk beberapa waktu ke dalam daerah bahasa Semit pada waktu Kaisar Asyoka mengadakan misi ke Siria dalam abad ke-3 sM.). Dalam 20 daerah di Asia, agama Buddha adalah agama resmi atau faktor kultural yang sangat berpengaruh. Perkembangan agama Hindu dan Tao di pihak lain, hanya terbatas pada satu kelompok linguistik yang sama.
Pieris kemudian - pokok yang ketiga - menunjuk pada kehadiran dari ajaran-aran keselamatan 'non-Kristen' yang sangat berpengaruh. Ia berhenti pada citra pelembagaan agama Buddha dengan penghayatan kepercayaan yang berdimensi kosmis dan meta-kosmis.
Menyelidiki sumbangan pikiran dari lebih banyak teolog Kristen (bahkan juga dari yang “bukan Kristen”) dan pemikir-pemikir mengenai citra Asia dari Yesus Kristus, tentu akan merupakan suatu usaha yang sangat menarik. Dalam hubungan ini hendaknya dipikirkan antara lain tentang Jepang.
Dalam tahun tahun yang sulit, sesudah Perang Dunia II, di mana Jepang mengalami kekalahan, K. Kitamori menulis tentang yang is sebut teologi penderitaan Allah. Belum lama berselang, karya-karya tulis Kosuke Koyama menjadi terkenal. Menanggapi pandangan Kitamori, Tsutomu Shoji menulis bahwa teologi ini selaras dengan perasaan kepahitan hidup yang dialami bangsa Jepang selama masa pemerintahan para Samurai dan militerisme yang berkepanjangan. Namun, katanya, pengertian dari pem­beritaan Injil seperti itu, terbatas terutama sampai pada taraf psikologis dan pribadi serta tidak membuka mata orang Kristen terhadap keadaan sosial sebenarnya, yakni penderitaan oleh rakyat. Oleh karena itu konsep pembebasan juga terbatas hanya sampai pada tingkat itu. Teolog yang lain, Takizawa Katsumi juga menjelaskan, bahwa peristiwa “Imanuel” yang ash meminta keterlibatan teologis dan politis dalam menghadapi masalah­masalah masa kini.
Kemudian dapat saja dibicarakan mengenai sumbangan­sumbangan pada “kristologi” Asia dari Korea dan Indonesia. Di sini yang dibicarakan secara lebih rinci hanya mengenai gambaran-gambaran Kristus di India dan dalam konteks “Cina”.
“Kristus pada Jalan Raya India” (Christ of the Indian Road) adalah judul buku yang menarik, yang ditulis oleh penginjil terkenal E. Stanley Jones. Bagaimana Yesus ditanggapi dan bagaimana Ia melalui jalan-jalan India?
Sidang Raya III Dewan Gereja-gereja se-Dunia pada tahun 1961 di New Delhi, adalah sidang raya Dewan Gereja-gereja se-Dunia yang pertama dan yang sampai sekarang satu-satunya diadakan di Asia. Pada sidang itu dibicarakan mengenai kebutuhan yang mendesak untuk berdialog kembali dengan agama-agama yang sedang berubah-ubah. “Kita harus berbicara dengan mereka tentang Kristus dengan menyadari bahwa melalui kita Kristus berbicara kepada mereka dan melalui mereka berbicara kepada kita.”' Dalam hubungan dengan India sudah sejak lama ada respons terhadap Kristus? Stanley Samartha membedakan tiga sikap, yaitu memberikan jawaban kepada Kristus tanpa penyerahan diri, jawaban serta penyerahan diri oleh mereka yang tetap tinggal di luar gereja-gereja yang dilembagakan, dan respons oleh mereka yang menjadi anggota gereja.

Yang masuk kategori pertama, yakni mereka yang memang menjawab panggilan Kristus, tetapi tetap memeluk agama Hindu, antara lain Raja Mohan Roy (1772-1833). Ia menggarap suatu kristologi tentang Kristus, yang bermoral serta berlatar belakang teisme India. Selanjutnya dapat disebut juga “Kristus yang bersifat mistik” dari Sri Ramakrishnan (1836-1886). Yang terakhir ini mendapat penglihatan dari Kristus. Ia percaya bahwa Kristus adalah penjelmaan Allah, tetapi bukan satu-satunya penjelmaan. Penjelmaan yang lain adalah Buddha dan Krishna. Contoh lain dari “respons” tanpa “ikatan” seperti disebut Samartha, dalam arti kata tidak terikat pada gereja, adalah Mahatma Gandhi.

No comments:

Post a Comment