Saturday, November 9, 2019

Kristus kolonial di Asia

Kristus yang dibawakan para penginjil dan misionaris sering berhubungan erat dengan kolonialisme, walaupun tidak senantiasa. Kebanyakan yang diberitakan adalah “Kristus yang menentang kebudayaan dan agama” (a), mengutip ungkapan Niebuhr, dan Ia juga Kristus yang menindas (b).
a.       Dalam era pengembangan gereja-gereja Eropa, Kristus “kolonial” bermusuhan dengan agama agama dari Dunia Ketiga yang dianggap agama-agama palsu. Bahkan pekerjaan Roberto de Nobili dan Mattheo Ricci tidak dikecualikan. Roberto de Nobili, anggota ordo Yesuit, pada 1606 di India membela peran serta orang-orang Kristen dalam perayaan-perayaan I lindu seperti Hari Raya Pongal. Ia mengusulkan agar orang Kristen memasak nasi basil panen yang pertama, di kaki salib yang memang dipasang untuk maksud itu. Namun pendekatannya itu hanya bertujuan agar agama Kristen dalam bentuk-bentuknya yang nyata, tidak akan menimbulkan masalah. Ia tidak berusaha untuk menyesuai­kan teologinya. Bagi dia, hanya teologi dari zaman itu, yakni teologi Trente, yang berlaku.
                                                                
Pada tahun 1706 Bartholemeus Ziegenbalg, penginjil Protestan pertama tiba di India. Dalam laporannya Remarkable Voyage (tidak dicetak) is menulis: “Saya tidak menolak semua apa yang mereka peNari, tetapi lebih dari itu saya bergembira karena mengetahui bahwa di antara orang kafir dahulu kala cahaya kecil dari Injil sudah mulai bersinar”. Ia menghendaki agar pembaca di Eropa melihat: “Betapa jauh mereka berkembang, karena diterangi oleh akal budi dalam pengetahuan mengenai Allah dan tata alam, serta bagaimana mereka sering mempermalukan banyak orang Kristen karena sifat kejujuran mereka, sebagai sikap hidup mereka dan bagaimana mereka berhasrat besar untuk mencapai kehidupan yang akan datang”.” Namun penghargaan terhadap “agama-agama alam” dan “akal budi” semacam itu, sekalipun sangat dipengaruhi pandangan abad ke-17 dan ke-18, pada zaman itu belum dimenger­ti orang. Apa yang dikatakan A.H. Francke (1663-1727) tak dapat disangsikan lagi, yang adalah pandangan penginjil-penginjil Barat pada umumnya untuk waktu yang cukup lama, “Para penginjil diutus untuk memberantas agama kafir di India, bukan untuk menyebarkan kekafiran yang tidak ada gunanya di Eropa.”

b.      Tidak dapat disangkal bahwa sering terjadi suatu “persekutu­an yang tidak suci antara para misionaris, tentara dan pedagang­-pedagang”. Agama Kristen “yang bersifat perdagangan” telah memasang salib di Asia dengan bantuan penguasa-penguasa kolonial dari luar negeri.” Jikalau kaum Katolik Roma telah membawa Kristus ke Asia, sebagaimana Ia dikenal oleh orang Spanyol, Portugis dan kemudian orang Perancis, Italis, Belgia, Irlandia dan Amerika Utara, maka kaum Protestan membawa serta versi Anglo-Saksis agama Kristen.” Kristus dibawa serta ke Asia dalam hubungan dengan kolonialisme, oleh karena itu tentu saja tidak banyak kritikan terhadap eksplotasi rakyat. Demikian teolog Katolik Roma dari Sri Langka, Tissa Balasuriya. Orang bicara tentang rencana “pembebasan” Allah, tetapi yang sebenarnya dimaksudkan ialah pesan bagi emansipasi atau pembebasan secara pribadi saja. “Kristologi” dikembangkan ke arah individualisme. Yesus mementingkan perubahan hati, bukan perombakan masyara­kat. Tissa Balasuriya menegaskan kemudian, bahwa teologi itu lebih memusatkan perhatian pada gereja daripada Kristus, atau bahkan Allah. Dalam abad ke-19 para misionaris menekankan bahwa hubungan pribadi dengan Yesus harus dihayati sebagai sobat. Yesus dilihat sebagai tokoh yang harus membebaskan umat manusia dari dosa warisan Adam. Tissa Balasuriya berpendapat bahwa hampir seluruh kehidupan Katolik didasarkan pada pandangan individualistis tentang Yesus dan Maria. Dalam hubungan ini ia menunjuk pada pengaruh besar dari Thomas a Kempis. Bukankah bab pertama dari karyanya Imitatio Christi membahas mengapa dunia harus dianggap hina. Thomas a Kempis hampir sepenuhnya bersikap negatif terhadap alam, dunia, kehidupan dan cinta manusiawi. Menurut Tissa Balasuriya, karena pandangannya begitu sempit, ia bertanggung jawab atas pemutar­balikan citra Yesus Kristus, yang walaupun dengan maksud baik, berakibat fatal. “Keseluruhan penggabungan teologi, kerohanian dan pengabdian cocok baik dengan latar belakang feodalisme ketimuran, despotisme dan kepercayaan pada tahyul maupun dengan kapitalisme Barat dalam tahap imperialisme.”

Sama seperti para teolog pembebasan dari Amerika Latin, Tissa Balasuriya menandaskan bahwa penafsiran Yesus Kristus yang seperti itu, mengandung arti bahwa kehidupan dan kematian Yesus hanya dilihat sebagai tindakan ketaatan kepada Allah. Keputusan Yesus sendiri sebagai hasil pertimbangan logis, yang Ia lakukan dalam konteks keadaan masyarakat pada waktu itu diabaikan. Orang sama sekali mengabaikan kasih-Nya kepada umat manusia, yang berada dalam keadaan tertindas dan proses pembebasan sebagai akibatnya.

Aloysius Pieris mempertajam pernyataannya dengan menga­takan bahwa zending dan misi masa kini membuat kesalahan yang sama, yakni melalui rencana-rencana pengembangan yang padat menempatkan gereja-gereja Asia dalam oasis-oasis Barat, yaitu dalam proyek-proyek besar bersifat pendidikan pribadi, atau pusat­pusat teknologi atau pertanian, yang dibiayai oleh bantuan dari luar negeri. Ia melihat adanya kelangsungan dari suatu misiologi “perebutan” dan “kekuasaan” di dalamnya, yang pada pendapatnya adalah ciri-ciri khas masa kolonialisme.

No comments:

Post a Comment