
Kristus yang dibawakan
para penginjil dan misionaris sering berhubungan erat dengan kolonialisme,
walaupun tidak senantiasa. Kebanyakan yang diberitakan adalah “Kristus yang
menentang kebudayaan dan agama” (a), mengutip ungkapan Niebuhr, dan Ia juga
Kristus yang menindas (b).
a. Dalam
era pengembangan gereja-gereja Eropa, Kristus “kolonial” bermusuhan dengan
agama agama dari Dunia Ketiga yang dianggap agama-agama palsu. Bahkan pekerjaan
Roberto de Nobili dan Mattheo Ricci tidak dikecualikan. Roberto de Nobili,
anggota ordo Yesuit, pada 1606 di India membela peran serta orang-orang Kristen
dalam perayaan-perayaan I lindu seperti Hari Raya Pongal. Ia mengusulkan agar
orang Kristen memasak nasi basil panen yang pertama, di kaki salib yang memang
dipasang untuk maksud itu. Namun pendekatannya itu hanya bertujuan agar agama
Kristen dalam bentuk-bentuknya yang nyata, tidak akan menimbulkan masalah. Ia
tidak berusaha untuk menyesuaikan teologinya. Bagi dia, hanya teologi dari
zaman itu, yakni teologi Trente, yang berlaku.
Pada tahun
1706 Bartholemeus Ziegenbalg, penginjil Protestan pertama tiba di India. Dalam
laporannya Remarkable Voyage (tidak dicetak) is menulis: “Saya tidak
menolak semua apa yang mereka peNari, tetapi lebih dari itu saya bergembira
karena mengetahui bahwa di antara orang kafir dahulu kala cahaya kecil dari
Injil sudah mulai bersinar”. Ia menghendaki agar pembaca di Eropa melihat:
“Betapa jauh mereka berkembang, karena diterangi oleh akal budi dalam
pengetahuan mengenai Allah dan tata alam, serta bagaimana mereka sering
mempermalukan banyak orang Kristen karena sifat kejujuran mereka, sebagai sikap
hidup mereka dan bagaimana mereka berhasrat besar untuk mencapai kehidupan yang
akan datang”.” Namun penghargaan terhadap “agama-agama alam” dan “akal budi”
semacam itu, sekalipun sangat dipengaruhi pandangan abad ke-17 dan ke-18, pada
zaman itu belum dimengerti orang. Apa yang dikatakan A.H. Francke (1663-1727)
tak dapat disangsikan lagi, yang adalah pandangan penginjil-penginjil Barat
pada umumnya untuk waktu yang cukup lama, “Para penginjil diutus untuk
memberantas agama kafir di India, bukan untuk menyebarkan kekafiran yang tidak
ada gunanya di Eropa.”
b.
Tidak dapat disangkal bahwa sering terjadi suatu
“persekutuan yang tidak suci antara para misionaris, tentara dan pedagang-pedagang”.
Agama Kristen “yang bersifat perdagangan” telah memasang salib di Asia dengan
bantuan penguasa-penguasa kolonial dari luar negeri.” Jikalau kaum Katolik Roma
telah membawa Kristus ke Asia, sebagaimana Ia dikenal oleh orang Spanyol, Portugis dan
kemudian orang Perancis, Italis, Belgia, Irlandia dan Amerika Utara, maka kaum
Protestan membawa serta versi Anglo-Saksis agama Kristen.” Kristus dibawa serta
ke Asia dalam hubungan dengan kolonialisme, oleh karena itu tentu saja tidak
banyak kritikan terhadap eksplotasi rakyat. Demikian teolog Katolik Roma dari
Sri Langka, Tissa Balasuriya. Orang bicara tentang rencana “pembebasan” Allah,
tetapi yang sebenarnya dimaksudkan ialah pesan bagi emansipasi atau pembebasan
secara pribadi saja. “Kristologi” dikembangkan ke arah individualisme. Yesus
mementingkan perubahan hati, bukan perombakan masyarakat. Tissa Balasuriya
menegaskan kemudian, bahwa teologi itu lebih memusatkan perhatian pada gereja
daripada Kristus, atau bahkan Allah. Dalam abad ke-19 para misionaris
menekankan bahwa hubungan pribadi dengan Yesus harus dihayati sebagai sobat.
Yesus dilihat sebagai tokoh yang harus membebaskan umat manusia dari dosa
warisan Adam. Tissa Balasuriya berpendapat bahwa hampir seluruh kehidupan
Katolik didasarkan pada pandangan individualistis tentang Yesus dan Maria.
Dalam hubungan ini ia menunjuk pada pengaruh besar dari Thomas a Kempis.
Bukankah bab pertama dari karyanya Imitatio Christi membahas mengapa
dunia harus dianggap hina. Thomas a Kempis hampir sepenuhnya bersikap negatif
terhadap alam, dunia, kehidupan dan cinta manusiawi. Menurut Tissa Balasuriya,
karena pandangannya begitu sempit, ia bertanggung jawab atas pemutarbalikan
citra Yesus Kristus, yang walaupun dengan maksud baik, berakibat fatal.
“Keseluruhan penggabungan teologi, kerohanian dan pengabdian cocok baik dengan
latar belakang feodalisme ketimuran, despotisme dan kepercayaan pada tahyul
maupun dengan kapitalisme Barat dalam tahap imperialisme.”
Sama seperti para teolog pembebasan dari Amerika
Latin, Tissa Balasuriya menandaskan bahwa penafsiran Yesus Kristus yang seperti
itu, mengandung arti bahwa kehidupan dan kematian Yesus hanya dilihat sebagai
tindakan ketaatan kepada Allah. Keputusan Yesus sendiri sebagai hasil
pertimbangan logis, yang Ia lakukan dalam konteks keadaan masyarakat pada waktu
itu diabaikan. Orang sama sekali mengabaikan kasih-Nya kepada umat manusia,
yang berada dalam keadaan tertindas dan proses pembebasan sebagai akibatnya.
Aloysius Pieris
mempertajam pernyataannya dengan mengatakan bahwa zending dan misi masa kini
membuat kesalahan yang sama, yakni melalui rencana-rencana pengembangan yang
padat menempatkan gereja-gereja Asia dalam oasis-oasis Barat, yaitu dalam
proyek-proyek besar bersifat pendidikan pribadi, atau pusatpusat teknologi
atau pertanian, yang dibiayai oleh bantuan dari luar negeri. Ia melihat adanya
kelangsungan dari suatu misiologi “perebutan” dan “kekuasaan” di dalamnya, yang
pada pendapatnya adalah ciri-ciri khas masa kolonialisme.
No comments:
Post a Comment