
Dalam
gambaran tentang Perjamuan Malam Terakhir, seniman Bengali Jamini Roy
(1887-1972), melukiskan Kristus dengan mata besar termangu-mangu bagaikan mata
ikan. Oleh beberapa pihak gambaran ini dihubungkan dengan ikan yang tidak
rnempunyai kelopak mata, jadi tidak pernah berkedip-kedip. Dengan demikian
melambangkan betapa Allah senantiasa siap sedia untuk melengkapi kebutuhan umat-Nya!
Dalam Bagian ini
pembahasan ditujukan kepada gambaran atau gambaran-gambaran Kristus di Asia.
Setelah diberikan suatu keterangan singkat mengenai gereja-gereja tua di sana,
disinggung sedikit mengenai “Kristus yang kolonial”, yang diserahkan kepada
Asia. Kami mengemukakan secara ringkas konteks agama Asia yang terutama
pluralistis (vii), setelah itu beberapa gambaran dipilih dari sekian banyak
kristologi dan gambaran tentang Kristus dibahas secara mendetail, yakni dari
seorang teolog Katolik-Roma [Raymond Panikkar] dan seorang teolog Protestan
[Stanley Samartha] (viii). Dalam bagian terakhir dibicarakan mengenai arti
Yesus dalam hubungan dengan ajaran Tao, menurut karya teolog Korea, Yang Young
Lee.
Yesus datang dari Asia.
Dan segera terdapat gereja-gereja Kristen di berbagai tempat di Asia. Gereja
yang paling misioner dalam abad-abad pertama ialah Gereja Nestorian, yang
berkembang sampai ke Cina. Namun dalam abad-abad kemudian gereja ini lenyap
juga dari bagian-bagian besar dari benua ini. Peristiwa ini juga disebut
“Gerhana matahari” dari agama Kristen di Asia. Di Asia Barat atau Timur Tengah
gereja-gereja purba tersisa dalam wujud yang disebut Gereja-gereja Ortodoks,
yaitu Gereja Ortodoks Siria (Siria, Libanon dan Turki), Gereja Nestorian atau
Assyria (terutama di Irak), kaum Maronit (Libanon) dan orang-orang Armenia.
Dari seluruh benua Asia,
tempat tinggal 60% dari penduduk dunia dan 75% dari orang miskin sedunia, hanya
2% dari penduduknya beragama “Kristen”. Bagian terbesar dari jumlah itu terdapat
di Filipina dan Indonesia, dua negara yang merupakan pengecualian dari “hal
yang lazim” di Asia. Dapat dikatakan bahwa penduduk Amerika Latin diperkirakan
seluruhnya beragama Kristen dan di Afrika, terutama sebelah selatan gurun
Sahara, yang adalah bagian terpenting, juga Kristen. Tetapi di Asia keadaannya
sama sekali lain. Oleh karena itu pertanyaan tentang bagaimana Yesus
ditanggapi, sekaligus merupakan pertanyaan tentang bagaimana hubungan Yesus
Kristus dan gereja-gereja Kristen dengan agama-agama lain di Asia. Yang
dimaksudkan terutama agama-agama “besar” seperti agama Hindu, Buddha dan ajaran
Tao, yakni “ajaran-ajaran keselamatan”, yang berbeda dengan agama Kristen.
Teolog Asia yang berasal
dari Sri Langka, Aloysius Pieris menulis: “Ke mana pun kita cari untuk mendapat
Kristus yang berwajah Asia, tidak akan berhasil, bilamana kita tidak ikut serta
dalam usaha pencarian bangsa Asia sendiri, dalam jurang yang amat dalam dari
mana agama dan kemiskinan sama-sama berasal: yaitu pada 'Allah yang telah
menyatakan Mammon sebagai musuhNya' (Mat 6:24).” Pada kesempatan yang lain
Aloysius Pieris menyatakan bahwa gereja di Asia hanya dapat menjadi
gereja milik Asia, jika dua kenyataan yang besar dari Asia ia perhatikan, yakni
kemiskinannya dan keberagamaannya. Ia berpendapat bahwa sumber kegagalan dari
agama Kristen di Asia - untuk jelasnya, usaha zending dan misi yang terakhir -
harus dicari dalam penggabungannya dengan Mammon itu, pemerasan komersial dan
kolonial serta penolakan gereja untuk menerobos ke dalam keberagamaan bersifat
kebiaraan yang ia sebut sebagai “soteriologisoteriologi (ajaran keselamatan)
bukan Kristen”.
No comments:
Post a Comment