Saturday, November 9, 2019

KRISTUS DI ASIA


     Dalam gambaran tentang Perjamuan Malam Terakhir, seniman Bengali Jamini Roy (1887-1972), melukiskan Kristus dengan mata besar termangu-mangu bagaikan mata ikan. Oleh beberapa pihak gambaran ini dihubungkan dengan ikan yang tidak rnempunyai kelopak mata, jadi tidak pernah berkedip-kedip. Dengan demikian melambangkan betapa Allah senantiasa siap sedia untuk meleng­kapi kebutuhan umat-Nya!

Dalam Bagian ini pembahasan ditujukan kepada gambaran atau gambaran-gambaran Kristus di Asia. Setelah diberikan suatu keterangan singkat mengenai gereja-gereja tua di sana, disinggung sedikit mengenai “Kristus yang kolonial”, yang diserahkan kepada Asia. Kami mengemukakan secara ringkas konteks agama Asia yang terutama pluralistis (vii), setelah itu beberapa gambaran dipilih dari sekian banyak kristologi dan gambaran tentang Kristus dibahas secara mendetail, yakni dari seorang teolog Katolik-Roma [Raymond Panikkar] dan seorang teolog Protestan [Stanley Samartha] (viii). Dalam bagian terakhir dibicarakan mengenai arti Yesus dalam hubungan dengan ajaran Tao, menurut karya teolog Korea, Yang Young Lee.
Yesus datang dari Asia. Dan segera terdapat gereja-gereja Kristen di berbagai tempat di Asia. Gereja yang paling misioner dalam abad-abad pertama ialah Gereja Nestorian, yang berkembang sampai ke Cina. Namun dalam abad-abad kemudian gereja ini lenyap juga dari bagian-bagian besar dari benua ini. Peristiwa ini juga disebut “Gerhana matahari” dari agama Kristen di Asia. Di Asia Barat atau Timur Tengah gereja-gereja purba tersisa dalam wujud yang disebut Gereja-gereja Ortodoks, yaitu Gereja Ortodoks Siria (Siria, Libanon dan Turki), Gereja Nestorian atau Assyria (terutama di Irak), kaum Maronit (Libanon) dan orang-orang Armenia.
Dari seluruh benua Asia, tempat tinggal 60% dari penduduk dunia dan 75% dari orang miskin sedunia, hanya 2% dari penduduknya beragama “Kristen”. Bagian terbesar dari jumlah itu terdapat di Filipina dan Indonesia, dua negara yang merupakan pengecualian dari “hal yang lazim” di Asia. Dapat dikatakan bahwa penduduk Amerika Latin diperkirakan seluruhnya beragama Kristen dan di Afrika, terutama sebelah selatan gurun Sahara, yang adalah bagian terpenting, juga Kristen. Tetapi di Asia keadaannya sama sekali lain. Oleh karena itu pertanyaan tentang bagaimana Yesus ditanggapi, sekaligus merupakan pertanyaan tentang bagaimana hubungan Yesus Kristus dan gereja-gereja Kristen dengan agama-agama lain di Asia. Yang dimaksudkan terutama agama-agama “besar” seperti agama Hindu, Buddha dan ajaran Tao, yakni “ajaran-ajaran keselamatan”, yang berbeda dengan agama Kristen.

Teolog Asia yang berasal dari Sri Langka, Aloysius Pieris menulis: “Ke mana pun kita cari untuk mendapat Kristus yang berwajah Asia, tidak akan berhasil, bilamana kita tidak ikut serta dalam usaha pencarian bangsa Asia sendiri, dalam jurang yang amat dalam dari mana agama dan kemiskinan sama-sama berasal: yaitu pada 'Allah yang telah menyatakan Mammon sebagai musuh­Nya' (Mat 6:24).” Pada kesempatan yang lain Aloysius Pieris menyatakan bahwa gereja di Asia hanya dapat menjadi gereja milik Asia, jika dua kenyataan yang besar dari Asia ia perhatikan, yakni kemiskinannya dan keberagamaannya. Ia berpendapat bahwa sumber kegagalan dari agama Kristen di Asia - untuk jelasnya, usaha zending dan misi yang terakhir - harus dicari dalam penggabungannya dengan Mammon itu, pemerasan komersial dan kolonial serta penolakan gereja untuk menerobos ke dalam keberagamaan bersifat kebiaraan yang ia sebut sebagai “soteriologi­soteriologi (ajaran keselamatan) bukan Kristen”.

No comments:

Post a Comment