Beberapa minggu sebelum peristiwa 11 September, saat sebelum kelahiran anak pertama kami, istri saya berencana untuk pergi ke California mengunjungi saudaranya. Dalam perjalanan saat mengantarkan istri ke bandara, kami berdoa supaya perjalanan istri diberi keselamatan dan perjalanannya diberkati Tuhan. Tak lama setelah saya berkata, "Amin", kami mendengar suara letusan dan mobil berguncang keras. Ternyata roda ban mobil kami pecah. Saya berusaha mengganti ban yang pecah secepat mungkin, tetapi ternyata kami tetap ketinggalan pesawat. Kami sangat kesal, dan memutuskan untuk pulang. Di rumah saya menerima telpon dari ayah saya, seorang pensiunan NYFD (Dinas Pemadam Kebaran New York). Dia bertanya berapa nomer pesawat istri saya, tapi saya saya katakan kami ketinggalan pesawat. Sambil dalam keadaan terguncang, ayah berkata bahwa pesawat yang sedianya dinaiki istri saya adalah pesawat yang dibajak oleh teroris untuk menabrak menara sebelah selatan dari WTC. Ayah juga memberitahukan informasi yang lain. Dia akan mejadi relawan membantu NYFD untuk menolong korban yang ada. Dia berkata, "Saya tidak bisa diam saja melihat musibah ini. Saya harus melakukan sesuatu untuk menolong mereka." Saya mengkuatirkan keadaan ayah, tetapi sebetulnya saya lebih prihatin karena ayah belum menyerahkan hidupnya pada Kristus. Setelah melewati perdebatan singkat, saya mengetahui bahwa tekad ayah sudah bulat. Sebelum menutup telpon ayah berkata, "Jaga baik-baik cucu ayah." Itu adalah kata-kata terakhir yang saya dengar, karena ayah juga termasuk korban yang jatuh pada saat NYFD melakukan penyelamatan di menara WTC. Sukacita saya karena Tuhan sudah menjawab doa saya dengan menyelamatkan istri saya, berubah menjadi kamarahan. Saya marah kepada Tuhan, marah kepada ayah saya dan marah kepada diri saya sendiri. Hampir dua tahun saya menyalahkan Tuhan karena sudah merenggut ayah dari keluarga kami. Anak saya tidak akan pernah bertemu kakeknya, ayah saya tidak menerima Kristus, dan saya tidak sempat mengucapkan kata-kata perpisahan. Kemudian sesuatu terjadi. Sekitar dua bulan lalu, saat saya sedang duduk di ruang keluarga bersama istri dan anak saya, ada suara ketukan di pintu. Saya bertanya kepada istri, tetapi dia menjawab tidak ada temannya yang berencana datang.
Akhirnya saya membuka pintu, dan di depan saya berdiri sepasang suami istri dengan anak kecil yang digendong. Suaminya bertanya apakah nama ayah saya Jake
Matthew. Saya menjawab ya. Segera dia menjabat erat-erat tangan saya dan berkata,
"Saya tidak pernah punya kesempatan bertemu dengan ayah anda, tetapi ini suatu
kehormatan bertemu dengan anaknya." Dia kemudian menjelaskan bahwa istrinya bekerja di World Trade Center (WTC) dan terjebak di dalamnya saat terjadi musibah. Dia dalam keadaan hamil dan tertimpa reruntuhan bangunan. Kemudian dia menjelaskan bahwa ayah saya berhasil menemukan istrinya dan menolongnya. Mata saya sembap dan penuh air mata saat saya membayangkan bahwa ayah telah mengorbankan nyawanya untuk menolong orang-orang seperti yang datang saat ini. Kemudian dia melanjutkan, "Ada hal lain yang anda harus ketahui." Istrinya kemudian menyambung penjelasan, bahwa saat menyelamatkan dirinya, dia sempat bercakap-cakap dengan ayah saya - dan menuntunnya untuk menerima Kristus. Saya mulai sesenggukan saat mendengar cerita itu. Sekarang saya tahu bahwa ayah sudah berada di surga. Dia akan berdiri disamping Yesus untuk menyambut saya di surga dan keluarga ini nantinya dapat mengucapkan terima kasih secara langsung padanya.
Ketika anaknya lahir, mereka menamainya Jacob Mattew sebagai penghormatan kepada orang yang sudah mengorbankan nyawanya sehingga anak itu beserta ibunya
bisa hidup.
Kisah nyata ini membantu kita untuk memahami dua hal. Pertama : Tuhanlah yang
memegang peranan untuk mengatur hidup kita dengan ajaib. Kita mungkin tidak bisa memahami apa yang ada dibalik semua peristiwa yang terjadi, dan kita tidak tahu setiap kejadian menurut sudut pandang surgawi. Tetapi Tuhan sendirilah yang campur tangan dan merencanakan setiap peristiwa yang terjadi. Dan yang kedua: setelah lewat dua tahun peristiwa penyerangan tragis terhadap WTC, kami tidak boleh membiarkan hal itu tetap menjadi sebuah ingatan yang pahit. Tuhan tidak pernah memanggil orang-orang yang sempurna, tetapi DIA akan menyempurnakan panggilan-Nya.
DANNY LEWIN, YAHUDI YANG JADI KORBAN PERTAMA SERANGAN TEROR WTC 2001
Tanggal 11 September yang lalu merupakan 15 tahun peringatan serangan ke Gedung WTC oleh teroris yang membajak pesawat. CBS mengungkapkan siapa korban pertama dari serangan tersebut. Dia adalah Danny Lewin (31), pendiri perusahaan internet, Akamai. Kisah Lewin pun terungkap dalam biografinya yang belum lama diterbitkan berjudul "No Better Time, The Brief,
Remarkable Life of Danny Lewin, the Genius Who Transformed the Internet" karya Molly Knight. Dia menumpang pesawat American Airlines bernomor penerbangan 11. Pesawat itu terbang dari Boston sebelum dibajak dan ditabrakkan ke menara utara gedung WTC. Saat itu pesawat baru terbang 16 menit dan melewati Worcester, Massachusetts. Lima teroris bersenjatakan pisau dan cutter membajak pesawat. Lewin yang merupakan bekas anggota pasukan anti-terorisme di Angkatan Bersenjata Israel dan memahami bahasa Arab mencoba untuk menghentikan pembajakan itu, sendirian! Dia bergulat dengan salah seorang teroris yakni Satam al-Suqami antara pukul 08.15-8.20 namun akhirnya tewas. Setengah jam kemudian, pesawat itu ditabrakkan ke menara utara gedung WTC. Seluruh penumpang berjumlah 81 orang dan sembilan awak serta dua pilot dalam pesawat itu pun tewas.
Lewin dipercaya sebagai orang pertama yang tewas dalam tragedi itu didasarkan pada wawancara dengan pihak-pihak yang sempat berbicara dengan dua pramugari saat pembajakan berlangsung. Hasil wawancara ini diterbitkan oleh Komisi 9/11 dalam laporan resminya. Siapa yang diwawancarai, tidak disebutkan dalam laporan tersebut. Laporan itu juga menyatakan Lewin tewas di tangan Satam dengan cara digorok lehernya dari belakang saat Lewin berusaha sendirian menghentikan pembajakan. Sayang sekali dia harus tewas di tangan teroris. Pria yang mencoba menyelamatkan orang lain ini berkorban begitu banyak. Sikap pahlawan yang ditunjukkannya saat menentang kejahatan patut dipuji. Seringkali kita takut dalam melawan kejahatan, namun jika kejahatan itu terus dibiarkan, maka bisa bertambah parah. Karena itu, marilah lawan kejahatan dengan kebaikan.

No comments:
Post a Comment