Friday, September 14, 2018

MASIH ADA

Ketika saya sedang di Manado, suatu kali saya menaiki sebuah mikro mini yang dikendarai oleh supir yang masih muda, kira-kira usia 20an. Ketika ada seorang nenek hendak naik, dia dengan sabar memberi saran agar hati-hati, awasi kepala dan kaki serta sabar menanti nenek itu naik dan duduk nyaman. Hal itu amat jauh berbeda dengan supir-
supir biasanya yang tidak sabar dengan penumpang yang hendak naik apalagi terhadap mereka yang sudah tua. Supir umumnya akan segera bergegas sebelum penumpang yang naik bisa duduk nyaman, dan saya berkali-kali mengalami itu. Saya pun melihat beberapa penumpang pernah mengalami hal yang sama meski mereka ada yang sudah tua. Namun supir yang satu ini berbeda meski dia masih muda.
     Ketika hendak menyeberangi lampu merah yang sudah berubah hijau, tiba-tiba ada dua orang tua bergandengan tangan hendak menyeberang jalan. Biasanya para supir akan marah dan kesal sebab terhambat dan akan memarahi dua orang tua itu karena sudah telat menyeberang. Namun kembali anak muda ini berbeda, dia berhenti dan berkata: “Satu saat nanti torang lei mo tua sama dengan dorang, torang musti hormati katu’ pa dorang yang so lebe tua dengan so pelang.” Saya jadi bengga akan supir itu. Ternyata masih ada supir muda seperti ini pikir saya. Sepanjang jalan kami berbincang-bincang karena kebetulan saya duduk di depan di samping dia. Ketika penumpang turun dia selalu memberi salam dan mengingatkan kalau ada yang lupa atau tidak.
     Di lain waktu saya pernah naik sebuah mikro jurusan Tondano - Eris, supirnya pun seorang anak muda. Nah, dia membawa mobilnya dengan baik, hanya sikapnya cuek dengan penumpang, itu biasa dan tidak mengapa. Hingga seorang kakek tua turun dan hendak membayar. Kakek ini turun amat perlahan dengan kondisi usianya. Sudah lama turun mobil, lama pula dia merogoh dompetnya untuk membayar. Ada sekitar beberapa menit berlalu dan supir itu tampak gerah dan marah. Dia sekejap melaju meninggalkan kakek itu sambil marah kesal
     Kakek itu sebaiknya memang menyediakan uang bayar terlebih dahulu, namun akan alangkah baiknya jika si supir bersabar menunggu uang bayaran dan memberi saran kepada si kakek dengan baik-baik. Sarankan agar berikut kakek itu dapat menyediakan uang bayar terlebih dahulu mengingat keterbatasannya yang sudah lambat dalam bergerak.
     Ya, hidup ini serba cepat, serba ingin segera berhasil. Segala sesuatu diukur dengan uang dan materi, jika terlambat sedikit langsung diukur dengan kerugian uang dan waktu. Seolah dunia tiada berpengasihan lagi kepada manusia yang harus berpacu untuk mencari nafkah dan bahkan ada yang berpacu mengejar harta dalam ketamakan.
     Kita yang sudah di dalam Yesus tidak akan memberi diri dikuasai oleh dunia dan segala beban tuntutannya. Sebab Kasih Yesus di dalam kita lebih kuat dari segala gerah dan panasnya dunia yang membuat manusia tidak lagi saling menghormati dan menghargai sesama bahkan yang lebih tua. Kini kita belajar dari kedua pengalaman di atas. Kita memilih yang mana sobat? Mari kita memilih kasih dan perhatian yang mengalahkan segala beban tuntutan dunia yang fana, Amin.

“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.”

Efesus 4 : 2

No comments:

Post a Comment