
Konsili Pertama
Nicea
Konsili Nicea
(325) Dalam Konsili Nicea, para uskup dari Gereja Timur memutuskan bahwa
sebutan Allah digunakan bukanlah untuk kehormatan saja. Dalam Syahadat Nicea
yang masih didaraskan dan dinyanyikan gereja dewasa ini, Yesus diakui sebagai
"Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar;
dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa." "Jika syahadat
ini tidak benar, kita tidak akan diselamatkan oleh Yesus," demikian kata
mereka. Konsili Nicea memelihara Gereja dari bidaah Arianisme. Yesus dari Nazaret, Sang
Kristus, Allah betul-betul menyatakan diri di bumi ini. Konsili Kontantinopel pada tahun 381 juga berpikir demikian, para
uskup dari Timur berpikir bahwa umat Kristen diselamatkan oleh Allah yang
mengambil sepenuh-penuhnya apa yang menjadi sifat kodrat manusia. Jika ada
sesuatu yang tidak diambil dalam penjelmaan, maka sesuatu itu tidak ditebus.
Maka, Yesus benar-benar seutuhnya manusia menjadi kebenaran yang menyelamatkan. Maka Konsili ini meneguhkan
pandangannya dalam Syahadat Nicea Konstantinopel
Namun
di lain pihak ada beberapa pandangan yang dianggap menekankan keilahian Yesus
dan kurang menekankan bahwa Ia benar-benar manusia.
|
“
|
Sebab Ia makan, bukan
untuk keperluan tubuh, yang kesegaran dan keutuhannya dijaga oleh suatu daya
kekuatan suci, tetapi untuk keperluan agar mereka yang ada bersama-Nya tidak
mempunyai pikiran yang lain tentang diri-Nya. “
|
”
|
|
Klemens dari
Aleksandria
|
||
|
“
|
Tuhan kita merasakan
beratnya tekanan penderitaan tetapi tidak merasakan sakitnya; paku-paku
menembus daging-Nya seperti suatu benda melewati udara tanpa rasa sakit
|
”
|
Konsili Efesus Konsili Efesus
tahun 431 memelihara gereja dari bidaah Nestorianisme. Konsili Efesus
mewartakan bahwa - betapapun besarnya kodrat Ilahi dan kodrat insani - hanya
ada satu pribadi saja dalam Yesus Kristus, di dalam manusia Yesus setiap orang
menemukan Allah. Untuk mengungkapkan misteri Kristus ini dengan
setegas-tegasnya, maka Konsili Efesus memberikan gelar Theotokos kepada Maria, artinya "Bunda
Allah"’.
Konsili Khalsedon Konsili Khalsedon tahun 451 memelihara gereja dari bidaah monofisitisme. Jika Nestorianisme mengatakan satu pribadi Yesus hanya Ilahi saja, maka Konsili Khalsedon mengggarisbawahi kemanusiaan Yesus dengan menegaskan bahwa dalam diri Yesus yang satu dan tunggal itu hadirlah bukan saja kodrat ilahi, tetapi juga kodrat insani seluruhnya (lihat: Persatuan hipostasis). Di dalam manusia yang sungguh-sungguh, nampak pula Allah yang sungguh-sungguh. Sama luhurnya dengan Allah yang dekat, tergerak oleh belas kasihan, berjuang melawan kejahatan. Di sini, keilahian dan kemanusiaan Yesus tidak tercampur, tidak tergantikan, tidak terpisahkan, tidak terbagi. Jadi, Yesus adalah simbol Allah, kata Roger Haight.
Dari ketiga pernyataan Magisterium Gereja mengenai kristologis, maka misteri
Allah menjadi terbuka, tidak dipersempit oleh akal budi, orang Kristen menemukan
inti sari misteri Allah yang sebenarnya. Hati manusiawi Yesus itu hati Allah.
Abad Pertengahan
Selama
Abad pertengahan hingga masa Reformasi Protestan, ajaran tentang Kristus tidak terlalu banyak berkembang,
ditandai dengan tafsir filsafat saja oleh
orang-orang Yunani. Luther dididik dalam teologi Skolastik, namun karena
pengaruh (yang menurutnya) dari Bapa Gereja Agustinus, dia kemudian merencanakan sebuah
perubahan besar. Ia menolak Skolastik bukan karena metodenya, namun karena isi
ajarannya. Dengan Roma 1:16-17 dia menemukan "Keadilan Allah" (iustitia
Dei)di mana menurutnya sudah tidak ada lagi pada Gereja Roma. Luther mengklaim
bahwa keadilan Allah adalah bahwa setiap manusia dihukum sesuai dengan
perbuatannya, namun diselamatkan oleh kasih karunia Allah di dalam Kristus.
Pengakuan tertinggi bahwa Kristus yang benar itu mampu menyelamatkan manusia
yang berdosa sebagai ajaran yang tertinggi.
No comments:
Post a Comment