Thursday, December 5, 2019

Kristologi di masa Konsili dan abad pertengahan

Konsili Pertama Nicea
     Konsili Nicea (325) Dalam Konsili Nicea, para uskup dari Gereja Timur memutuskan bahwa sebutan Allah digunakan bukanlah untuk kehormatan saja. Dalam Syahadat Nicea yang masih didaraskan dan dinyanyikan gereja dewasa ini, Yesus diakui sebagai "Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar; dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa." "Jika syahadat ini tidak benar, kita tidak akan diselamatkan oleh Yesus," demikian kata mereka. Konsili Nicea memelihara Gereja dari bidaah Arianisme. Yesus dari Nazaret, Sang Kristus, Allah betul-betul menyatakan diri di bumi ini. Konsili Kontantinopel pada tahun 381 juga berpikir demikian, para uskup dari Timur berpikir bahwa umat Kristen diselamatkan oleh Allah yang mengambil sepenuh-penuhnya apa yang menjadi sifat kodrat manusia. Jika ada sesuatu yang tidak diambil dalam penjelmaan, maka sesuatu itu tidak ditebus. Maka, Yesus benar-benar seutuhnya manusia menjadi kebenaran yang menyelamatkan. Maka Konsili ini meneguhkan pandangannya dalam Syahadat Nicea Konstantinopel
     Namun di lain pihak ada beberapa pandangan yang dianggap menekankan keilahian Yesus dan kurang menekankan bahwa Ia benar-benar manusia.
Sebab Ia makan, bukan untuk keperluan tubuh, yang kesegaran dan keutuhannya dijaga oleh suatu daya kekuatan suci, tetapi untuk keperluan agar mereka yang ada bersama-Nya tidak mempunyai pikiran yang lain tentang diri-Nya. “

Tuhan kita merasakan beratnya tekanan penderitaan tetapi tidak merasakan sakitnya; paku-paku menembus daging-Nya seperti suatu benda melewati udara tanpa rasa sakit
     Konsili Efesus Konsili Efesus tahun 431 memelihara gereja dari bidaah Nestorianisme. Konsili Efesus mewartakan bahwa - betapapun besarnya kodrat Ilahi dan kodrat insani - hanya ada satu pribadi saja dalam Yesus Kristus, di dalam manusia Yesus setiap orang menemukan Allah. Untuk mengungkapkan misteri Kristus ini dengan setegas-tegasnya, maka Konsili Efesus memberikan gelar Theotokos kepada Maria, artinya "Bunda Allah"’.

     Konsili Khalsedon Konsili Khalsedon tahun 451 memelihara gereja dari bidaah monofisitisme. Jika Nestorianisme mengatakan satu pribadi Yesus hanya Ilahi saja, maka Konsili Khalsedon mengggarisbawahi kemanusiaan Yesus dengan menegaskan bahwa dalam diri Yesus yang satu dan tunggal itu hadirlah bukan saja kodrat ilahi, tetapi juga kodrat insani seluruhnya (lihat: Persatuan hipostasis). Di dalam manusia yang sungguh-sungguh, nampak pula Allah yang sungguh-sungguh. Sama luhurnya dengan Allah yang dekat, tergerak oleh belas kasihan, berjuang melawan kejahatan. Di sini, keilahian dan kemanusiaan Yesus tidak tercampur, tidak tergantikan, tidak terpisahkan, tidak terbagi. Jadi, Yesus adalah simbol Allah, kata Roger Haight.
     Dari ketiga pernyataan Magisterium Gereja mengenai kristologis, maka misteri Allah menjadi terbuka, tidak dipersempit oleh akal budi, orang Kristen menemukan inti sari misteri Allah yang sebenarnya. Hati manusiawi Yesus itu hati Allah.

Abad Pertengahan

     Selama Abad pertengahan hingga masa Reformasi Protestan, ajaran tentang Kristus tidak terlalu banyak berkembang, ditandai dengan tafsir filsafat saja oleh orang-orang Yunani. Luther dididik dalam teologi Skolastik, namun karena pengaruh (yang menurutnya) dari Bapa Gereja Agustinus, dia kemudian merencanakan sebuah perubahan besar. Ia menolak Skolastik bukan karena metodenya, namun karena isi ajarannya. Dengan Roma 1:16-17 dia menemukan "Keadilan Allah" (iustitia Dei)di mana menurutnya sudah tidak ada lagi pada Gereja Roma. Luther mengklaim bahwa keadilan Allah adalah bahwa setiap manusia dihukum sesuai dengan perbuatannya, namun diselamatkan oleh kasih karunia Allah di dalam Kristus. Pengakuan tertinggi bahwa Kristus yang benar itu mampu menyelamatkan manusia yang berdosa sebagai ajaran yang tertinggi. 

No comments:

Post a Comment