
A. Kristologi dalam Ilmu Teologi
Dalam
pembagian cara lama dan ilmiah, Kristologi dimasukkan dalam rumpun Teologi
Sistematika. Dogmatika
Kristologi bagi umat Kristen merupakan penyataaan (wahyu) Allah kepada manusia melalui
kedatangan Kristus Kata 'Kristologi' berasal
dari bahasa Yunani, Χριστός= kristos = Kristus dan
λόγος
=logos = logi = kata-kata = ilmu, singkatnya; Ilmu tentang Kristus, pembicaraan
tentang Kristus ini terkait dengan umat Kristen memahaminya dalam kehidupan
sehari-hari; Yesus pada masa lampau hingga masa kini, selama perjalanan itulah
maka terus digeluti karena masih relevan dengan masalah-masalah di setiap
zaman.[2] Kristologi dan
ajaran Trinitas tidak dapat
dipisahkan satu terhadap yang lainnya, baik dalam sejarah, sistematika dan dogmatika Selain itu, aspek
penting lain yang menyertai pembicaraan ini adalah mengenai keselamatan atau soteriologi.
Pembicaraan
tentang Kristus merupakan ajaran Kristen yang mempercayai Yesus Kristus sebagai
Tuhan. Perdebatan tentang Ketuhanan Yesus masih berlangsung sampai saat ini
(setidaknya pada beberapa kalangan). Adanya perdebatan seputar paham Trinitas (Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus)
yang berbeda-beda.
utamanya tampak dalam pemikiran Ireneus, Tertulianus dan Origenes di masa lampau.Sampai saat ini masih ada perdebatan
tentang keilahian mengenai kemanusiaan Kristus dan Keilahian Kristus terus
terjadi. Setidaknya
bisa diketahui dari uraian seorang tokoh dalam Gereja Katolik Roma, Karl Rahner pada tahun 1960an
yang menegaskan kembali bahwa Yesus adalah seratus persen Allah dan seratus
persen manusia. Di Indonesia, dapat dibandingkan pendapat dari dua orang
teolog, Joas Adiprasetya dalam bukunya Berdamai dengan Salib
yang menggugat Ionaes Rahmat dalam buku Soteriologi Salib.
Kristus sebagai Mesias
Empat Penginil, oleh Pieter Soutman, Abad ke-17.
Melalui
pendekatan biblis
atau Hermeneutika Alkitab, ditemui sebutan bahwa Yesus adalah Mesias. Hal ini
diperoleh dari Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru (Bahasa Yunani;
Kristus) yang pada Perjanjian Lama disebut Mesias (Bahasa Ibrani.
Mesias dalam Perjanjian Lama
Mesias dalam Perjanjian Lama
berarti keluarga Daud, raja yang selalu berjaya digantikan Mesias dalam
Perjanjian Baru menjadi raja yang dibangkitkan dari kematian. Raja kerajaan
yang gilang gemilang pada masa akhir dan menjadi pemimpin religius, bukan
pemimpin politik.
Kata
"Kristus" memiliki arti yang sama dengan
Mesias yang artinya adalah "Yang Diurapi". Di dalam ajaran Kristen, kelahiran
Yesus sudah dinubuatkan semenjak zaman nabi-nabi dalam Alkitab Perjanjian Lama:
Natan, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Hagai dan Zakharia. Mesias di dalam Perjanjian Lama
dinanti oleh orang Israel untuk memulihkan bangsa Israel dari berbagai masalah,
terutama politik. Jadi hadirnya Mesias adalah sebagai "solusi" dalam
masa krisis; Masa Israel ditawan oleh bangsa-bangsa lain.
Mesias dalam Perjanjian Baru
Dari
berbagai istilah tentang Kristus pada orang-orang pada masa Awal Masehi sudah
beragam. Informasi lain, Yesus disebut sebagai Mesias dari Israel, Mesias adalah Kristus disebutkan Paulus
sebanyak 270 kali dan variasi nama Yesus Kristus atau Kristus Yesus sebanyak
109 kali. Nama itu menunjuk pada : Allah, Tuhan atau kata ganti yang
menjurus pada Allah.
|
“
|
Ia bertanya pada
mereka, "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"
Petrus menjawab,
"Engkau adalah Mesias (bahasa Inggris: You
are The Christ.)
|
”
|
Demikian
juga kata Marta dalam Injil Yohanes:
|
“
|
Engkau adalah Mesias, Anak Allah, Dia
yang datang ke dalam dunia
|
”
|
Injil Yohanes dilihat sangat khusus dalam pandangan Kristologi, bahwa Firman atau λόγος, Allah sendiri menjadi manusia, dalam wujud Kristus. Di sini dijelaskan bahwa Kristus yang adalah Yesus itu adalah Allah sendiri, Ketuhanan Yesus merupakan pusat Teologi Perjanjian Baru, menurut Miller, "Yesus adalah Allah".
No comments:
Post a Comment